CDC mengatakan saat ini tidak ada bukti bahwa JN.1 menimbulkan peningkatan risiko terhadap kesehatan masyarakat dibandingkan varian lain yang beredar saat ini dan suntikan terbaru dapat membuat warga Amerika terlindungi dari varian tersebut.
JN.1 pertama kali terdeteksi di Amerika Serikat pada bulan September, menurut CDC.
Pekan lalu, Tiongkok mendeteksi tujuh infeksi subvarian COVID.
COVID-19 varian JN.1 terus bertambah di Indonesia. Meski masih pada level aman, Kementerian Kesehatan mengimbau agar masyarakat secara disiplin melaksanakan protokol Kesehatan.
Hal ini untuk memutus mata rantai penularan COVID-19 dan melengkapinya dengan menyegerakan vaksinasi di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) atau pos vaksinasi terdekat.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga mengimbau seluruh masyarakat masyarakat, terutama yang merasakan gejala seperti demam, batuk, dan pilek, agar segera memeriksakan diri ke fasyankes terdekat untuk diagnosis lebih lanjut.
Masyarakat kalau sudah ada gejala sebaiknya segera tes untuk mengetahui apakah positif COVID-19 atau flu biasa, kata kata Menkes Budi.
“Kalau positif COVID-19 tapi tidak bergejala sebaiknya istirahat saja. Kalau bergejala bisa ke Puskesmas untuk mendapatkan obat,” ujarnya.
Hingga 19 Desember 2023, menjelang libur Natal 2023 dan Tahun Baru 2023, Kementerian Kesehatan mencatat jumlahnya mencapai 41 kasus.




