Andhika mengatakan tren menunjukkan status kerentanan hiu dan pari secara global makin meningkat, ini cukup mengkhawatirkah. Bahkan jenis ikan laut yang dideklarasikan punah berasal dari Indonesia ialah pari Jawa.
“Pemanfaatan hiu dan pari cukup beragam yaitu mulai dari penggunaan akuaria hingga pengobatan. Kemudian yang paling banyak adalah pemanfaatan sebagai makanan termasuk pemanfaatan untuk domestik,” kata Andhika.
Menghadapi tantangan tersebut, menurut Andhika, pemerintah dan masyarakat telah melakukan pengelolaan perikanan, pengembangan kawasan konservasi. Selanjutnya penyadartahuan dan yang menjadi fokus sharing kali ini adalah pembatasan perdagangan.
“Namun, pembatasan perdagangan menghadapi tantangannya sendiri, seperti volume perdagangan hiu dan pari besar,” kata Andhika.
”Variasi olahan produk yang sangat beragam, identitas spesies, keterbatasan budget, kondisi geografis, dan volume yang tinggi.”
Sementara itu, Kepala PRZT BRIN Delicia Yulita Rachman, berharap kegiatan kali ini dapat memperkuat kemampuan identifikasi spesies dan mendukung penegakan hukum dari eksploitasi berlebih satwa liar, khususnya hiu dan pari.
“Di samping itu juga untuk memperdalam informasi tentang genetik dan konservasi serta memberikan pengetahuan penting. Hal ini untuk melindungi sumber daya hayati di perairan nasional maupun internasional,” ujarnya.




