Menurut BMKG kombinasi ketiga fenomena ini berpotensi semakin meningkatkan pertumbuhan awan hujan dan curah hujan, terutama di wilayah perairan dan daratan Indonesia bagian tengah hingga timur.
Di sisi lain, Ex-Siklon Tropis Narelle yang terpantau di pesisir barat Australia bagian utara masih memberikan pengaruh tidak langsung terhadap dinamika atmosfer di Indonesia, terutama meningkatkan kecepatan angin di wilayah Nusa Tenggara Timur, Laut Timor, dan sekitarnya, serta konvergensi dan konfluensi di perairan selatan Sulawesi dan Maluku bagian selatan hingga tenggara.
Sistem ini juga masih berpotensi kembali berkembang menjadi siklon tropis di Samudra Hindia selatan NTT.
Selain itu, sirkulasi siklonik diprakirakan muncul di Samudra Hindia barat Aceh dan Samudra Pasifik utara Papua, disertai sejumlah daerah konvergensi dan konfluensi yang membentang di sebagian wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Labilitas atmosfer lokal yang kuat juga masih terpantau di beberapa wilayah, termasuk Sumatra, Kalimantan, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, dan Papua, sehingga kondisi ini berpotensi mendukung peningkatan pertumbuhan awan hujan dan cuaca signifikan di sejumlah wilayah.
Dengan mempertimbangkan dinamika atmosfer yang masih signifikan dalam beberapa hari ke depan, BMKG mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi.




