Dalam pelaksanaannya, menurut Sri Yanti, kegiatan COREMAP-CTI didukung oleh dana hibah Global Environment Facility (GEF) melalui World Bank (WB) dan dilaksanakan oleh Kementerian PPN/Bappenas melalui ICCTF.
Program tersebut bekerja sama dengan lima mitra pelaksana untuk pelaksanaan kegiatan di lapangan selama periode Agustus 2020 – Maret 2022.
Sri Yanti mengatakan perubahan iklim secara global telah mengubah komposisi fisika, biologi dan kimiawi lautan yang langsung maupun tidak langsung memengaruhi kehidupan biota laut di dalamnya. Karakteristik iklim laut seperti suhu, arus, oksigen terlarut merupakan komponen yang memengaruhi produktivitas primer dan sekunder, sekaligus berdampak pada distribusi dan kelimpahan perikanan pada suatu lokasi.
Selain itu, variabilitas iklim yang terjadi secara alami seperti El Niño Southern Oscillation (ENSO), pada skala tahunan, dan Pacific Decadal Oscillation (PDO) pada skala 10 tahunan juga berpengaruh terhadap sektor perikanan dan kelautan.
Intinya, kata Sri Yanti, perubahan iklim berdampak serius pada sektor kelautan dan perikanan. Data RPJMN 2020-2024 mencatat, sektor kelautan dan perikanan menjadi salah satu ujung tombak pendapatan ekonomi nasional.
Namun terdapat mandat pemerintah untuk melindungi dan merehabilitasi ekosistem yang rusak. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah. Karenanya, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri serta membutuhkan kerjasama multi pihak seperti pihak swasta dan kelompok masyarakat.





Komentar tentang post