Diskusi Trustworthy News, Tangkal Hoaks Perlu Keahlian Khusus

Diskusi terbuka tentang Trustworthy News Indicators di Balikpapan, Kalimantan Timur, Eabu (21/12). FOTO: AMSI KALIMANTAN TIMUR

Darilaut – Cara menangkal berita hoaks memerlukan keahlian khusus yang ada pada media tepercaya. Untuk itu, Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) dengan dukungan Internews dan USAID MEDIA mengadakan diskusi terbuka tentang Trustworthy News Indicators, dengan tema “Kolaborasi Tangkal Hoax Jelang Pemilu 2024”.

Chief of Party Internews Indonesia, Eric Sasono, mengatakan, media menghadapi tantangan yang sangat besar yaitu berkurangnya kepercayaan masyarakat terhadap media yang disebabkan oleh banyak faktor.

“Kami sangat menghargai upaya Asosiasi Media Siber Indonesia untuk mengembalikan kepercayaan itu dengan membuat Trustworthy News Indicators ini,” kata Eric.

Trustworthy merupakan upaya self regulation atau swa-regulasi media dalam memproduksi berita untuk kepentingan publik. Diharapkan dengan disiplin menerapkan indikator Trustworthy, kepercayaan publik terhadap media akan didapatkan.

Ini bukan upaya yang mudah di tengah tekanan dan kesulitan yang dialami oleh bisnis media. Sehingga menurut Eric, dalam konteks melawan hoax, upaya ini tidak dapat dilakukan sendiri oleh media.

“Menjadi penting melibatkan banyak pihak termasuk pemangku kepentingan kunci media yang memiliki kesamaan prinsip,” ujar Eric, saat diskusi terbuka tentang Trustworthy News Indicators yang berlangsung di Balikpapan, Rabu (20/12).

Diskusi publik yang dirangkai dengan kegiatan Konferensi Wilayah (Konferwil) ke-2 AMSI Kalimantan Timur tersebut, dimoderatori dosen Universitas Balikpapan Andi Surayya. Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber masing-masing dari Kepolisian Daerah Kalimantan Timur diwakili oleh AKP Syakir Arman yang merupakan pimpinan Sub Direktorat V Siber, Wamustofa Hamzah anggota Bawaslu Provinsi Kalimantan Timur, dan Direktur Eksekutif AMSI Stefanus Felix Lamuri.

Koordinator Wilayah AMSI Kalimantan, Sumarsono, mengatakan, AMSI Kalimantan Timur mempunyai peran penting upaya menangkal hoax melalui pemberitaan media yang punya indikator Trustworthy.

“Berita itu disusun melalui proses yang cukup panjang karena ada beberapa yang perlu dilakukan yaitu kaidah-kaidah jurnalistik dan check and recheck”. Potensi media sebagai benteng penangkal hoax nampaknya tidak dapat ditawar lagi, kata Sumarsono.

Wamustofa Hamzah dari Bawaslu menggarisbawahi pentingnya inisiatif semacam Trustworthy ini. “Bagaimana mungkin kita dapat melawan ratusan hingga ribuan hoaks sehari? Ini harus menjadi sebuah kerja sama kolaboratif terutama dalam situasi pemilu saat ini,” kata Wamustofa.

Terlebih informasi hoax yang beredar cepat saat ini kerap bersumber dari pihak yang tidak kita duga.

“Hoaks tidak hanya didapatkan dari orang yang tidak kita percaya tetapi justru dari orang yang kita percaya. Dan itu menyulitkan untuk dibendung penyebarannya,” kata Syakir.

Penegak hukum siber Polda Kaltim ini bahkan merinci lebih jauh kerumitan proses menghadang hoaks.

“Dalam proses tahapan pemilu, peningkatan mis dan disinformasi (hoaks) sulit dibendung. Disamping perlu penelaahan awal, pengungkapan kasusnya kerap berliku-liku”.

Lalu apa kunci solusi yang mungkin dapat diupayakan? Menurut Syakir pilihan kolaborasi dapat menjadi alternatif solusi.

Felix pun menunjukan data bagaimana potensi hoax justru muncul dalam peristiwa tertentu. “Angka hoaks meroket justru di tahun politik 2019, dan menjadi rekor tertinggi dalam 5 tahun terakhir”.

Sifat preventif yang dapat dihadirkan oleh media adalah penerapan sebelas indikator Trustworthy dalam alur kerja jurnalistik, kata Felix.

Di penghujung diskusi, Andi Surayya mengingatkan bahwa setiap orang punya potensi untuk menjadi penyebar hoaks.

Jadi menjadi penting mengenal cara atau ciri-ciri hoaks agar dapat dihindari, kata Andi.

Dalam konteks pemilu, menurut Andi, kolaborasi para pihak, ditambah dengan pelibatan Trustworthy akan jadi resep jitu penangkal hoaks. Setidaknya, kita akan punya model pendekatan yang lebih kontekstual.

Trustworthy News Indicators merupakan gabungan dari Brand Safety dan kode etik dari Dewan Pers yang menjadi model standar bagi anggota AMSI.

Exit mobile version