Selain itu, integrasi aspek psikologis dalam pembelajaran juga dianggap penting. Pemahaman mengenai perilaku konsumtif, pengaruh diskon, serta kecenderungan impulsif menjadi bagian dari literasi keuangan modern yang tidak dapat diabaikan.
“Pendidikan ekonomi harus lebih relevan dan responsif terhadap dinamika zaman. Kita tidak hanya butuh siswa yang paham teori, tetapi juga mampu mengambil keputusan finansial yang bijak,” ujarnya.
Fenomena gagal bayar pinjol ini, menurut Meyko, harus menjadi alarm bagi dunia pendidikan dan sektor keuangan. Tanpa pembaruan pendekatan, Indonesia berisiko menghasilkan generasi yang memiliki akses luas terhadap layanan keuangan digital, tetapi tidak memiliki kemampuan untuk mengelolanya secara bijak.



