Dosen UNG Riset Konservasi Habitat Alami Burung Maleo, Satwa Endemik Sulawesi yang Terancam Populasinya

Burung maleo (Macrocephalon maleo). FOTO: HANOM BASHARI/EPASS

Darilaut – Dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Dr. Daud Yusuf melakukan riset konservasi habitat alami burung maleo (Macrocephalon maleo).

Pentingnya riset dengan pendekatan spasial ini karena satwa endemik Sulawesi tersebut kian terancam populasinya.

Melalui penelitian tersebut, Daud Yusuf yang juga Sekretaris Jurusan Ilmu dan Teknologi Kebumian (ITK) FMIPA UNG, meraih gelar Doktor dalam bidang Ilmu Lingkungan di Pascasarjana UNG.

Judul penelitian ini “Model Konservasi Habitat Alami Maleo Berbasis Spasial di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.”

Penelitian ini dengan tujuan mengidentifikasi habitat utama Maleo, faktor-faktor lingkungan yang memengaruhi kelangsungannya, serta merumuskan strategi konservasi yang dapat diterapkan secara berkelanjutan di kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.

Sebelumnya, pada Jumat, 21 Februari 2025, di Pascasarjana UNG, Daud telah melaksanakan seminar proposal disertasi.

Seminar proposal disertasi ini turut dihadiri oleh para akademisi, dosen, dan mahasiswa yang memberikan masukan dan diskusi konstruktif terhadap riset yang dikembangkan.

Riset yang dirintis sejak tahap proposal tersebut telah berhasil dituntaskan hingga jenjang promosi doktor.

Keberhasilan ini menegaskan kontribusi nyata Daud Yusuf dalam pengembangan ilmu lingkungan, khususnya dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati dan pengelolaan kawasan konservasi berbasis data spasial di Indonesia.

Hasil riset ini diharapkan dapat terus memberi manfaat bagi upaya konservasi Maleo serta pengelolaan lingkungan berbasis ilmiah di Sulawesi dan Indonesia pada umumnya.

Dekan FMIPA UNG, Prof. Dr. Fitryane Lihawa, mengatakan riset tentang konservasi habitat Maleo berbasis spasial sangat relevan dan memberikan kontribusi nyata bagi pelestarian keanekaragaman hayati di Sulawesi.

Semoga pencapaian ini semakin memacu semangat dosen dan mahasiswa FMIPA untuk terus berkarya dan menghasilkan riset-riset yang bermanfaat bagi masyarakat, kata Prof. Fitryane.

Sebagai catatan, burung maleo telah masuk kategori genting menurut kriteria IUCN dan Undang-Undang konservasi di Indonesia.

IUCN (International Union for Conservation of Nature) atau Uni Internasional untuk Konservasi Alam memberikan status genting atau Endangered untuk maleo karena menghadapi risiko kepunahan di alam liar.

Exit mobile version