Keberhasilan ini menegaskan kontribusi nyata Daud Yusuf dalam pengembangan ilmu lingkungan, khususnya dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati dan pengelolaan kawasan konservasi berbasis data spasial di Indonesia.
Hasil riset ini diharapkan dapat terus memberi manfaat bagi upaya konservasi Maleo serta pengelolaan lingkungan berbasis ilmiah di Sulawesi dan Indonesia pada umumnya.
Dekan FMIPA UNG, Prof. Dr. Fitryane Lihawa, mengatakan riset tentang konservasi habitat Maleo berbasis spasial sangat relevan dan memberikan kontribusi nyata bagi pelestarian keanekaragaman hayati di Sulawesi.
Semoga pencapaian ini semakin memacu semangat dosen dan mahasiswa FMIPA untuk terus berkarya dan menghasilkan riset-riset yang bermanfaat bagi masyarakat, kata Prof. Fitryane.
Sebagai catatan, burung maleo telah masuk kategori genting menurut kriteria IUCN dan Undang-Undang konservasi di Indonesia.
IUCN (International Union for Conservation of Nature) atau Uni Internasional untuk Konservasi Alam memberikan status genting atau Endangered untuk maleo karena menghadapi risiko kepunahan di alam liar.



