Karena itu, pertanyaan kritisnya bukan siapa yang paling aktif. Pertanyaannya adalah apakah ketujuh mandat tersebut telah menghasilkan sesuatu yang strategis dalam artian bermanfaat bagi Gorontalo. Jika belum, maka persoalannya bukan semata-mata kinerja individual, melainkan desain dan budaya representasi politik daerah yang masih terfragmentasi.
Pengalaman Tinggi, Capaian Rendah
Ada persoalan lain yang sering tidak terlihat ketika membicarakan wakil daerah di Senayan. Pemerintah daerah dan anggota parlemen sering diperlakukan sebagai dua dunia yang berbeda, padahal keduanya berada dalam satu rantai politik kebijakan pusat-daerah. Pemerintah daerah membutuhkan akses ke pusat, sementara wakil daerah membutuhkan agenda yang jelas agar fungsi representasinya tidak berubah menjadi sekadar menampung berbagai tuntutan.
Hubungan tersebut selama ini terlalu mudah dibangun secara personal. Seorang kepala daerah berkomunikasi dengan seorang anggota parlemen, seorang pejabat daerah bertemu dengan seorang legislator, atau sebuah institusi menyampaikan persoalan kepada figur tertentu. Pola seperti ini mungkin efektif dalam jangka pendek, tetapi rapuh secara kelembagaan karena bergantung pada kedekatan personal dan konfigurasi kekuasaan yang selalu berubah.




