Justru karena pengalaman tersebut cukup beragam, standar publik tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan apakah mereka sudah bekerja. Harusnya, pertanyaan yang lebih tajam adalah apakah pengalaman individual itu berhasil dikonversi menjadi kapasitas kelembagaan dan daya tawar kolektif. Pengalaman politik yang besar tetapi berjalan sendiri-sendiri tetap menghasilkan kekuatan yang terpecah.
Di sinilah hubungan antara Senayan dan Gorontalo perlu dibenahi. Yang dibutuhkan bukan kesepakatan politik dalam segala hal, melainkan kesepakatan mengenai kepentingan daerah yang bersifat strategis dan mekanisme untuk memperjuangkannya. Dengan demikian, perbedaan partai dan lembaga tidak hilang, tetapi justru ditempatkan dalam pembagian kerja politik yang lebih produktif.
Jika tidak, tujuh orang akan tetap menjadi tujuh kanal komunikasi. Masyarakat mungkin memperoleh banyak pernyataan, banyak aktivitas, dan banyak informasi mengenai kerja politik, tetapi belum tentu memperoleh satu hal yang paling penting: kemampuan daerah memengaruhi keputusan yang menentukan masa depannya.
Waktu yang Tersisa
Dua tahun pertama dalam periode lima tahun sebenarnya sudah memberikan cukup waktu untuk membaca situasi. Para wakil sudah mengenal konfigurasi parlemen, pemerintah pusat sudah terbentuk, hubungan politik antarpartai mulai menemukan polanya, dan pemerintah daerah juga telah menjalankan agenda pemerintahan dalam konteks politik nasional yang baru. Karena itu, tiga tahun berikutnya seharusnya bukan sekadar melanjutkan rutinitas, tetapi menjadi fase konsolidasi representasi.




