E-Logbook Penangkapan Ikan Versi Baru Dapat Merekam Koordinat dan Kecepatan Kapal

Kapal di Pelabuhan Perikanan Poumako, Kabupaten Mimika. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – E-Logbook versi 3 yang diluncurkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dapat merekam koordinat kapal dengan memanfaatkan GPS, sekaligus menginformasikan kecepatan kapal dalam kegiatan penangkapan ikan.

“Informasi tersebut sangat bermanfaat khususnya pada kapal izin daerah untuk memastikan Lokasi penangkapannya sesuai dengan perizinannya,” kata Direktur Pengelolaan Sumber Daya Ikan KKP, Syahril Abd Raup.

Hal ini, kata Syahril, menunjukkan aktivitas perikanan berjalan transparan dan sesuai aturan.

Tak hanya itu, aplikasi ini juga mampu mendeteksi dugaan ketidakpatuhan daerah penangkapan ikan (DPI), dan memprediksi waktu kedatangan kapal di pelabuhan perikanan.

Sejak 2018, e-logbook penangkapan ikan terus dikembangkan dan perbaiki berbagai fiturnya.

Aplikasi ini hadir sebagai jawaban atas segala tantangan yang dihadapi selama ini terkait ”pendataan produksi ikan hasil tangkapan nelayan,” ujar Syahril.

KKP meluncurkan inovasi pendataan ikan e-Logbook versi 3. Inovasi ini menandai era baru dalam pencatatan ikan yang kini dilengkapi fitur identifikasi jenis ikan secara digital dengan dukungan artificial intelligence (kecerdasan artifisial atau kecerdasan buatan).

 “Nantinya seluruh kapal penangkap ikan bisa mengimplementasikan penggunaan e-logbook ini, yang terintegrasi dan pada akhirnya kita bisa mengetahui seberapa besar jumlah penangkapan ikan bahkan bisa menghitung seberapa besar stok potensi ikan kita,” kata Menteri Sakti Wahyu Trenggono, Selasa (7/10).

E-Logbook versi 3 diluncurkan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono di Bali, dalam rangkaian Bulan Bakti Kelautan dan Perikanan untuk memperingati HUT ke-26 KKP.

Hadirnya e-Logbook versi 3 merupakan komitmen KKP dan bentuk kolaborasi dengan para mitra pembangunan dalam mendukung program ekonomi biru, khususnya penangkapan ikan terukur.

“Sinergi dengan para mitra kami harap dapat mempercepat transformasi sektor kelautan dan perikanan yang berkelanjutan, inklusif dan berdaya saing serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat pesisir,” ujar Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Lotharia Latif.

Kecerdasan Buatan

Tantangan terbesar dalam pengelolaan perikanan Indonesia adalah keragaman hayati laut yang sangat tinggi. Kompleksitas ini membuat identifikasi manual rawan kesalahan, memakan waktu, serta menyulitkan proses perhitungan stok ikan.

FishFace hadir menjawab tantangan tersebut. Dikembangkan sejak 2017, teknologi ini mampu melakukan identifikasi otomatis terhadap ikan hasil tangkapan dengan memanfaatkan teknologi pengenalan wajah. Saat ini, FishFace telah mampu mengenali lebih dari 10 spesies tuna dan kakap bernilai ekonomi tinggi, serta menghasilkan data real-time terkait stok ikan dan lokasi penangkapan.

FishFace adalah inovasi untuk memperkuat basis data perikanan Indonesia. Dengan informasi yang akurat, kita dapat memastikan strategi pengelolaan yang menjaga keberlanjutan stok ikan sekaligus mendukung kesejahteraan nelayan,” kata Glaudy Perdanahardja, Manajer Senior Perikanan Berkelanjutan YKAN.

Glaudy menjelaskan bahwa ke depan, kemampuan FishFace akan ditingkatkan untuk mengenali lebih banyak spesies, yaitu 25 spesies tuna dan kakap-kerapu. Jumlah tambahan spesies tersebut akan merepresentasikan setidaknya 60% hasil tangkapan perikanan tuna dan kakap-kerapu.

Exit mobile version