Darilaut – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Ocean Explorer (OceanX) menggelar Workshop Hasil Riset dan Evaluasi Mission Indonesia 2024. Selain itu, dalam kegiatan ini dibahas rencana ekspedisi 2025 dengan tema ”Looking to the Future – Developing the Scientific Expedition for Indonesia Mission 2025”.
Co-CEO OceanX, Vincent Pieribone, menjelaskan pentingnya kolaborasi ini. Vincent menyampaikan pesan dari pemimpin OceanX, Ray Dalio dan Mark Dalio, serta rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung keberhasilan misi di Indonesia.
“Kita semua di sini karena kita mencintai lautan. Kita semua di sini karena kita ingin mempelajari lautan, kita hidup di lautan, kita menghormati lautan – dan Indonesia seakan-akan mencontohkan lautan dalam benak kita,” ujar Vincent di Jakarta, pada Rabu (10/9).
Berikut ini bahasan Ekspedisi BRIN-OceanX 2024 yang berlangsung 10 dan 11 September 2025 dengan tema ”Marine Futures Unlocked: From Insight to Impact”.
Hari ke-1 kegiatan lokakarya mengenai Ringkasan dan Linimasa 2024 dan penyampaian oleh Co-CEO OceanX, Vincent Pieribone, serta Kepala BRIN Laksana Tri Handoko.
Dilanjutkan Rekapitulasi Indonesia 2024 oleh Mattie Rodrigue (OceanX), Nugroho Dwi Hanato (BRIN)
Ringkasan Sains Indonesia 2024: Tinjauan Leg dan ringkasan disampaikan Haekel Azief Haridh (Universitas Syiah Kuala) untuk Batam – Banda Aceh. Selanjutnya, Jimy Kalther (KI) Banda Aceh – Padang, Agus Atmadipoera (BRIN) dan Jimy Kalther (KI) untuk Padang – Jakarta. Kailani Acosta (OceanX) Jakarta – Bali – Manado, dilanjutkan Dr. Achmad Sahri (PRO – BRIN) untuk Manado.
Pembahasan selanjutnya, proyek tematik: analisis data, pembaruan proyek, status publikasi, langkah selanjutnya dengan moderator Mattie Rodrigue (OceanX).
Hari pertama workshop dengan tema ke-1 kajian mengenai tsunamigenesis dan zona megathrust: proyek geofisika dan geomorfologi oleh Marina Frederik (BRIN) & Haekel Azief Haridh (Universitas Syiah Kuala).
Tema ke-2 mengenai pengamatan Dinamika Laut, Biogeokimia, Paleoseanografi, Gelombang Internal, dan Akustik Perikanan di Sumatra Bagian Barat dan Laut Andaman-Selat Malaka oleh Agus Atmadipoera (BRIN) dan Prof. Agus.
Tema ke-3 tentang keanekaragaman hayati dan perikanan: menggabungkan perlindungan dan produksi berkelanjutan. Dengan menggunakan metode campuran canggih untuk mengoptimalkan desain kawasan konservasi laut di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPP) 572, 573, dan 714, serta keanekaragaman hayati megafauna di Sulawesi Utara oleh Iqbal Herwata (KI), Jimy Kalther (KI) dan Dr. Achmad Sahri (PRO-BRIN; Leg 5 Megafauna).
Tema ke-4 mengenai kelautan tak dikenal: investigasi kompleks gunung laut dan hidrotermal di Pulau Weh Paling Utara dan Zona Retakan Gempa Megathrust Sumatera 2004/2005, studi mikroba dan biosenyawa terkait oleh Ariani Hatmanti (BRIN).
Tema ke 5 tentang asosiasi perilaku dan habitat Coelacanth Indonesia oleh Ixchel Feibi Mandagi (FPIK – UNSRAT) dan Dr. Alex Masengi. Dilanjutnya, tema ke-6, Coelacanth di Sulawesi Utara oleh NHK-Jepang.
Dalam workshop ini terdapat sesi diskusi kebijakan dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Diskusi ini membahas bagaimana data yang dikumpulkan dari ekspedisi ini diterjemahkan menjadi hasil kebijakan untuk Indonesia.
Kebijakan ekonomi biru untuk sektor kelautan dan perikanan oleh Anastasia; integrasi strategis data survei Ocean X ke dalam tata kelola KKP dan keanekaragaman hayati laut oleh Firdaus Agung; Optimalisasi pemanfaatan data untuk perencanaan tata ruang laut di Indonesia oleh Abdi Tunggal Priyanto.
Selanjutnya, memperkuat penilaian stok melalui survei independen untuk mendukung kebijakan penangkapan ikan terukur berbasis kuota Indonesia: sains berbasis bukti untuk pengelolaan perikanan berkelanjutan oleh Syahril Abd. Raup.
Urgensi penetapan kawasan suaka untuk melindungi Coelacanth di Indonesia oleh Augy Syahalatua (BRIN), serta memanfaatkan ekonomi biru melalui optimalisasi eksplorasi sumber daya kelautan dan dukungan ilmiah oleh Rahmat Mulianda (BAPPENAS).
Di hari kedua workshop untuk rencana kegiatan tahun 2025, Menatap Masa Depan – Mengembangkan Ekspedisi Ilmiah untuk Misi Indonesia 2025 (Looking to the Future – Developing the Scientific Expedition for Indonesia Mission 2025).
Diskusi ini membahas pertukaran terstruktur dengan OceanX dan BRIN lintas lembaga.
Adapun pendekatan programatik dalam program ini dengan mengintegrasikan pendidikan, penjangkauan, dan media ke dalam program ilmiah jangka panjang untuk Indonesia dan OceanX.
