Karangetang merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang paling sering mengalami erupsi. Erupsi Gunung Karangetang umumnya bersifat efusif dan eksplosif. Efusif yaitu aliran/guguran lava dan awan panas. Esplosif, yaitu erupsi Strombolian dengan lontaran lava/batu pijar dan abu.
Dalam sejarahnya, ancaman bahaya berupa lontaran material dengan ukuran lapilli (diameter 2-64 mm) maksimum menjangkau radius kurang dari 2.5 km dari puncak. Sementara itu, material berukuran bom (diameter lebih dari 64 mm) umumnya menjangkau kurang dari radius 500 m dari puncak.
Secara visual dari Pos Pengamatan Gunungapi Karangetang yang berada sekitar 4,5 km di sebelah Baratdaya puncak Karangetang, umumnya tertutup kabut dan sesekali tampak jelas. Saat jelas, asap kawah teramati bertekanan lemah berwarna putih dengan ketinggian lebih kurang 150 meter di atas Kawah Utama (Selatan) dan lebih kurang 50 meter di atas Kawah Utara. Cuaca di sekitar gunungapi umumnya berawan hingga hujan.
Pemantauan aktivitas vulkanik yang dilakukan dari laut (dengan menggunakan speed boat) maupun dari darat (dengan menggunakan drone), menunjukkan bahwa aliran lava secara dominan bergerak ke arah Baratlaut-Utara yaitu ke arah Kali Malebuhe dari puncak hingga ke laut.
Aliran lava ini mengakibatkan tertutupnya akses jalan raya dari Kampung Batubulan ke jalur jalan di sisi sebelah Barat Pulau Siau. Akses menuju Kampung Batubulan saat ini hanya dapat dilalui melalui jalan setapak dari Kampung Nameng di sisi Timurlaut-Utara Pulau Siau.





Komentar tentang post