Area badai dengan kecepatan angin 50 knot atau lebih di seluruh area 130 km (70 NM), kata Badan Meteorologi Jepang JMA).
Melansir Kantor Berita Filipina, PNA, Presiden Ferdinand R. Marcos Jr. pada Jumat (15/11) menginstruksikan lembaga pemerintah terkait untuk menyampaikan kepada unit pemerintah daerah (LGU) mengenai wilayah yang berisiko tinggi terhadap gelombang badai agar melakukan langkah-langkah yang diperlukan.
Marcos mengatakan LGU harus diberi panduan khusus, karena dia mengakui bahwa terjadinya gelombang badai bisa berakibat fatal.
Marcos menjelaskan bahwa negara itu harus belajar dari topan sebelumnya yang memicu gelombang badai, termasuk Topan Super Yolanda (Haiyan) yang merenggut setidaknya 6.000 nyawa pada November 2013.
Sekretaris Pemerintah Daerah Jonvic Remulla mengatakan akan ada evakuasi di daerah-daerah di mana gelombang badai mungkin terjadi.
“Evakuasi wajib akan dilakukan di daerah pesisir Visayas Timur, Wilayah Bicol, Calabarzon dan Lembah Cagayan mulai Jumat malam,” kata Remullla, seperti dikutip dari PNA.
Remulla memperingatkan bahwa Catanduanes dan Camarines Sur diperkirakan akan menjadi daerah yang paling parah terkena dampak.
Lima pesawat militer dan setidaknya 19 helikopter tersedia untuk misi bantuan dan penyelamatan yang mungkin diperlukan setelah Topan Pepito (nama internasional Man-yi), kata Kepala Angkatan Bersenjata Filipina (AFP) Jenderal Romeo Brawner Jr. Jumat.




