Di sisi lain, meski pada umumnya dikaitkan dengan kekeringan, kata Fadli, sisi positif dari fenomena ini. Berdasarkan data kandungan klorofil, terjangan El Nino justru menunjukkan korelasi dengan peningkatan kesuburan laut di wilayah Indonesia Timur, yang menjadi kawasan subur bagi pertumbuhan ikan tuna, khususnya tuna mata besar (bigeye tuna).
Dalam webinar internasional bertajuk “El-Nino 2026-2027: From Global Climate Signal to Local Action: Preparing Indonesia and the United States for an Unprecedented Climate Challenge”, Fadli menggarisbawahi bahwa sistem peringatan dini tidak cukup hanya mengandalkan indeks ENSO semata, melainkan harus diterjemahkan menjadi informasi yang dapat ditindaklanjuti secara nyata.
Ia juga mencatat bahwa pemodelan iklim yang ada saat ini masih memiliki celah kekurangan, terutama dalam mengukur pergolakan arus dan turbulensi di lautan dalam (seperti di Saluran Labani, Selat Makassar). Hal inilah yang mendasari pentingnya kerja sama riset lanjutan dengan lembaga internasional.
Menanggapi pentingnya penguatan riset tersebut, Plt. Kepala Organisasi Riset Kebumian dan Maritim (ORKM) BRIN, Luki Subehi, mengatakan bahwa kolaborasi internasional sangat diperlukan mengingat dampak El Nino sangat erat terhubung dengan dinamika ITF.




