Memahami perubahan ini penting tidak hanya untuk ilmu kelautan, tetapi juga untuk meningkatkan prediksi iklim, kesiapsiagaan bencana, keamanan air dan pangan, serta ketahanan masyarakat pesisir melalui pengembangan observasi berkelanjutan di Selat Makassar dan pemanfaatan riset sains yang berorientasi pada aksi nyata,” kata Luki.
Penguatan riset di lautan dalam tersebut turut diperkuat oleh penjelasan dari Daniel Rudnick dari Scripps Institution of Oceanography. Ia memaparkan pemanfaatan robotik bawah air berbentuk mirip pesawat luncur (spray underwater glider) yang dapat menyelam secara otomatis dari permukaan hingga kedalaman 1.000 meter untuk memantau perubahan suhu, kadar garam, hingga gelombang panas di lautan.




