Setelah lolos dari uji multikolinearitas, penentuan wilayah yang sesuai untuk tampungan bisa dilanjutkan melalui metode pembobotan dan keputusan multi kriteria.
Hasil dari metode ini adalah ditentukan wilayah yang paling sesuai untuk membangun tampungan air, di mana air akan selalu bisa ditampung meskipun dalam kondisi iklim ekstrim. Metode ini bisa digunakan dalam evaluasi embung-embung yang sudah dibangun saat ini.
Ida mengatakan untuk mengatasi defisit sumberdaya air akibat perubahan iklim, fenomena iklim dan peningkatan kebutuhan air, maka perlu dibangun tampungan air (embung/ reservoir dan guludan kontur) di wilayah Gunung Kijang, dan Toapaya. Wilayah paling optimal penampungan air hujan adalah di DAS kawal, wilayah Gunung Kijang.
Pemilihan lokasi tampungan di optimasi berdasarkan skenario paling buruk, dimana status ketersediaan sumberdaya air terendah, keterpenuhan ketersediaan air (mempertimbangkan iklim) terendah, debit terendah (saat fenomena iklim), tutupan lahan, kemiringan, elevasi dan kerapatan sungai.
Ida menyimpulkan bahwa Pulau Bintan mengalami penurunan curah hujan rata-rata tahunan sebesar 15% dan penurunan curah hujan rata-rata musiman antara 10-25%. Skenario tutupan lahan tahun 2022 dan proyeksi iklim RCP 4.5 menurunkan suplai air sebesar 32,7%, sementara RCP 8.5 menaikkannya sebesar 5,9%.




