Menurutnya, isu perubahan iklim memiliki kompleksitas tersendiri karena sering kali melibatkan data dan rujukan ilmiah yang bersifat teknis sehingga rentan diperdebatkan atau disalahgunakan untuk membangun narasi yang menyesatkan.
“Perubahan iklim adalah isu yang sangat teknikal dan banyak menggunakan rujukan ilmiah yang bisa menjadi sumber perdebatan. Karena itu, kemampuan jurnalis untuk memahami, memverifikasi, dan menjelaskan informasi tersebut kepada publik menjadi sangat penting,” katanya.
Wahyu juga berharap pelatihan ini menjadi awal dari kolaborasi yang lebih luas antara media arus utama, media alternatif, dan pers mahasiswa dalam memproduksi dan menyebarluaskan informasi lingkungan yang kredibel.
“Kami berharap pelatihan ini menjadi awal kolaborasi di antara peserta. Biasanya kegiatan seperti ini saling terhubung dan melahirkan kerjasama lanjutan. Semoga para peserta dapat saling berbagi dan menyebarluaskan informasi yang relevan dan penting, karena audiens membutuhkan insight serta informasi terpercaya mengenai perubahan iklim,” katanya.
Selama dua hari, peserta akan mengikuti berbagai sesi yang mencakup pemahaman mengenai tantangan informasi iklim, ekosistem penyebaran misinformasi di platform digital, model kolaborasi jurnalisme lingkungan, teknik verifikasi dan cek fakta untuk pelaporan iklim, hingga pengembangan storytelling digital untuk berbagai platform.




