Sekitar 1.69 rumah, 670 biara, 60 sekolah dan tiga jembatan dilaporkan rusak, dengan kekhawatiran atas integritas struktural bendungan skala besar.
Myanmar telah terperosok dalam perang saudara yang brutal sejak tindakan keras militer terhadap demonstran pro-demokrasi oleh otoritas militer, yang menggulingkan pemerintah dalam kudeta militer pada Februari 2021.
Militer telah meminta masyarakat internasional untuk memberikan bantuan darurat di tengah kehancuran yang meluas dan hilangnya nyawa. Sementara itu, pasukan oposisi melaporkan bahwa beberapa serangan udara terus berlanjut setelah gempa, termasuk satu di wilayah Sagaing.
Respons PBB
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) ingin memindahkan Tim Medis Darurat (EMT) ke Myanmar di tengah laporan persediaan medis yang tidak mencukupi, termasuk kit trauma untuk mengobati orang yang terluka, kantong darah untuk transfusi, anestesi, perangkat berbantuan, obat-obatan penting lainnya, dan tenda untuk petugas kesehatan.
Koordinator Residen dan Kemanusiaan PBB untuk Myanmar, Marcoluigui Corsi, mengeluarkan pernyataan pada hari Sabtu yang mengungkapkan solidaritasnya yang tak tergoyahkan dengan rakyat Myanmar “selama masa tragis ini.”
“PBB dan mitranya segera memobilisasi untuk mendukung upaya tanggap darurat dan siap membantu semua masyarakat yang terkena dampak di mana pun mereka berada,” katanya.




