Sementara itu, Direktur Gempa Bumi dan Tsunami – BMKG, Wijayanto, menjelaskan secara umum kejadian gempa susulan terbagi menjadi beberapa kelompok. Pertama, gempa M≥5,0 (26 kejadian atau 0,2%) dirasakan cukup luas dan berpotensi berdampak pada bangunan rentan. Gempa kategori ini semakin jarang dan tidak tercatat lagi dalam satu minggu terakhir.
Kedua, gempa berkekuatan M4,0 hingga kurang dari M5,0 tercatat sebanyak 476 kejadian atau 3,0%. Gempa pada kategori ini masih dapat dirasakan dalam wilayah yang cukup luas, tetapi berpotensi kecil menimbulkan kerusakan signifikan. Frekuensinya terus menurun setelah memasuki 4–5 minggu pascagempa utama.
Ketiga, gempa berkekuatan M3,0 hingga kurang dari M4,0 tercatat sebanyak 3.308 kejadian atau 20,9%. Gempa pada kategori ini umumnya dirasakan secara lokal dan tidak menimbulkan kerusakan. Aktivitasnya diperkirakan masih berlangsung hingga 6–7 minggu ke depan dengan frekuensi yang terus meluruh.
Keempat, gempa berkekuatan kurang dari M3,0 mendominasi aktivitas gempa susulan dengan 11.993 kejadian atau 75,9%. Sebagian besar gempa hanya terdeteksi oleh jaringan seismograf dan tidak dirasakan masyarakat. Aktivitas pada kategori ini diperkirakan masih berlangsung hingga beberapa bulan ke depan.
“Estimasi ini merupakan kecenderungan statistik peluruhan, bukan perkiraan tanggal pasti berakhirnya aktivitas gempa maupun prediksi waktu gempa berikutnya. Masyarakat diimbau tetap mewaspadai karakteristik wilayah NTT yang memang memiliki tingkat kegempaan tinggi,” ujar Wijayanto.




