Meski ketinggiannya relatif kecil, kata Daryono, BMKG tetap menetapkan status Waspada untuk sejumlah wilayah pesisir.
”Artinya, daerah-daerah tersebut berpotensi terdampak gelombang tsunami setinggi di bawah 0,5 meter. Masyarakat kami imbau untuk menjauhi area pantai dan tetap siaga,” ujarnya.
Daryono mengatakan bentuk pantai, terutama yang menyerupai teluk atau ceruk sempit, dapat memperkuat gelombang tsunami, sehingga potensi dampak lokal tetap perlu diantisipasi.
“Kami terus memantau situasi secara real-time dan memperbarui informasi jika ada perkembangan signifikan,” kata Daryono.
BMKG juga menginformasikan bahwa hingga pukul 16.30 WIB telah terjadi 43 gempa susulan (aftershock), dengan magnitudo terbesar mencapai M6,9.
Daryono mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah percaya pada isu atau hoaks terkait tsunami dan hanya mengakses informasi resmi BMKG melalui kanal komunikasi terverifikasi.
Simulasi Tsunami
Para peneliti Jepang tengah menganalisis dampak gempa dahsyat pada Rabu (30/7) di Rusia Timur Jauh. Mereka menciptakan simulasi untuk menjelaskan mengapa beberapa tsunami besar terjadi setelahnya.
Melansir NHK, kelompok ini dipimpin oleh Profesor Imamura Fumihiko dari Institut Riset Internasional Ilmu Kebencanaan Universitas Tohoku.




