Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, memprediksi rangkaian gempa susulan (aftershock) ini akan terus berlangsung selama 3 hingga 4 minggu ke depan.
Fase awal rangkaian gempa susulan masih memperlihatkan pola temporal yang kompleks dan belum sederhana.
“Aktivitas gempa susulan pada beberapa hari pertama masih relatif tinggi dan belum menunjukkan pola peluruhan yang signifikan,” ujarnya, di Jakarta, Jumat (21/8).
“Jumlah gempa per 24 jam tercatat 704 kejadian pada hari pertama, meningkat menjadi 746 pada hari kedua, kemudian berkisar 668, 649, dan 627 kejadian pada hari ketiga hingga kelima, namun naik lagi menjadi 802 kejadian pada hari keenam.”
Berdasarkan hasil monitoring BMKG, rangkaian gempa susulan ini menyebabkan beberapa guncangan signifikan berintensitas IV-VI MMI yang dirasakan kuat oleh warga setempat.
BMKG mencatat peristiwa guncangan kuat terjadi pada 19 Agustus 2026 pukul 23.17 WIB berkekuatan M5,6, serta 20 Agustus 2026 pukul 05.45 WIB berkekuatan M5,8.
Selanjutnya, gempa signifikan kembali mengguncang pada 20 Agustus 2026 pukul 09.47 WIB dengan kekuatan M5,8, yang memicu kerusakan susulan pada struktur bangunan dan jembatan terdampak serta menimbulkan bencana tanah longsor di sejumlah titik.
Guna memantau perkembangan terkini, BMKG terus mengoperasikan sistem pemantauan real-time 24 jam sehari selama 7 hari seminggu.




