“Masker kain, perlindungan terhadap droplet ada, tapi tidak ada perlindungan terhadap aerosol atau partikel yang airbone,” ujar Erlina dalam keterangan pers di Graha BNPB, Jakarta, Rabu (1/4).
Pengunaan masker kain bisa digunakan sebagai pilihan terakhir, jika ketersediaan masker bedah sudah sangat langka di pasaran.
“Kalau orang sehat memborong dan memakai (masker bedah), maka ketersediaan masker ini tidak ada lagi bagi tenaga kesehatan maupun orang sakit, dan ini berbahaya kalau orang sakit tidak ada akses terhadap masker, bisa jadi orang sakit ini jadi sumber penularan kita semua,” katanya.
Masker bedah, menurut Erlina, efektif mencegah partikel airbone ukuran 0,1 mikron dari 30 hingga 95 persen. Namun masih memiliki kelemahan yakni tidak bisa menutupi permukaan wajah secara sempurna terutama di sisi samping kiri dan kanan masker. Kelemahan lainnya, hanya bisa digunakan sekali pakai.
Adapun masker N95, memang tingkat efektivitas pencegahan penularan mencapai 95 persen, namun masker ini tidak boleh dipakai oleh sembarang orang dan menjadi protokol wajib tenaga kesehatan yang harus berkontak langsung dengan pasien penderita.
Erlina mengatakan, masker N95 mempunyai proteksi yang baik untuk droplet dan juga memiliki proteksi aerosol. Makanya dianjurkan untuk tenaga medis, bukan masyarakat.





Komentar tentang post