Darilaut – Setelah letusan besar Gunung Krakatau tahun 1883, Anak Krakatau lahir pada 1927 dan hingga kini menjadi bagian aktif dari sistem Krakatau, dengan kedalaman penyimpanan magma lebih dari 7 km.
Sejarah geologi, sistem Krakatau diketahui telah mengalami sedikitnya dua caldera-forming eruption atau letusan pembentukan kaldera, yakni sekitar abad ke-5 atau 6 dan pada 1883 M.
Salah satu peristiwa terbesar terjadi pada 27 Agustus 1883 ketika letusan mencapai Daya Ledak Vulkanik 6 dan memicu tsunami yang menyebabkan lebih dari 36.000 korban jiwa di kawasan Selat Sunda.
Tercatat pula perubahan estimasi kedalaman dapur magma. Pada Old Krakatau, tekanan penyimpanan magma diperkirakan sekitar 14–72 MPa, setara dengan kedalaman sekitar 0,6–2,9 kilometer. Young Krakatau berada pada kisaran 26–84 MPa atau sekitar 1,1–3,4 kilometer.
Sementara itu, Anak Krakatau menunjukkan tekanan yang jauh lebih tinggi, yakni 185–665 MPa, yang diperkirakan berkaitan dengan kedalaman sekitar 7,4–26,6 kilometer.
”Setelah letusan besar 1883, Anak Krakatau lahir pada 1927 dan hingga kini menjadi bagian aktif dari sistem Krakatau,” kata peneliti Ahli Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Aditya Pratama, dalam Geohazard Webinar 2026 #05, Senin (14/9).
Kondisi tersebut mendorong pertanyaan penting dalam penelitian, yakni bagaimana kondisi penyimpanan magma berubah dari periode Old Krakatau, Young Krakatau, hingga Anak Krakatau, serta pada fase mana Anak Krakatau berada dalam siklus evolusi sistem kaldera, kata Aditya.
Penelitian dilakukan melalui analisis terhadap 16 sampel batuan yang berasal dari Pulau Sertung, Panjang, Rakata, dan Anak Krakatau. Sampel tersebut terdiri atas lima sampel lava Old Krakatau, dua lava dan lima batu apung Young Krakatau, serta sembilan sampel lava Anak Krakatau.
Aditya menjelaskan bahwa sejumlah metode digunakan untuk memperoleh gambaran kondisi magma bawah permukaan. Analisis meliputi petrografi menggunakan mikroskop optik, analisis geokimia batuan dengan XRF, analisis kimia mineral dan gelas menggunakan EPMA, pengamatan tekstur mineral magnetik melalui SEM-EDS, serta pengukuran sifat kemagnetan batuan menggunakan magnetic susceptibility dan Isothermal Remanent Magnetization (IRM).
Salah satu pendekatan penting dalam penelitian ini adalah geothermobarometri, yang digunakan untuk memperkirakan tekanan dan temperatur saat mineral mengalami kristalisasi.
Hasil tersebut kemudian dikonversikan menjadi estimasi kedalaman penyimpanan magma, sehingga dapat dibangun gambaran mengenai sistem magma plumbing Krakatau pada setiap periode.
Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan komposisi magma yang signifikan. Material Old dan Young Krakatau didominasi magma andesitik hingga dasitik dengan kandungan SiO₂ sekitar 63–68 persen berat, yang menunjukkan magma telah mengalami diferensiasi lebih lanjut.
Anak Krakatau memiliki komposisi basaltik, dengan SiO₂ sekitar 50 persen berat, sehingga dikategorikan sebagai magma yang lebih primitif atau kurang terdiferensiasi.
Perbedaan tersebut mengindikasikan bahwa sistem magma Krakatau menjadi semakin mafik dari periode Old menuju Anak Krakatau.
”Kondisi ini ditafsirkan sebagai indikasi adanya pasokan magma baru dari kedalaman ke dalam sistem magmatik di bawah Anak Krakatau,” ujar Aditya seperti dikutip dari Brin.go.id.
