“Istilah maritim cenderung bersifat militeristik dan berorientasi pada kekuasaan negara yang terpusat,” kata Melani yang juga Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), seperti dikutip dari Brin.go.id.
”Sebaliknya, saya menawarkan konsep ‘Bahari’ yang lebih menonjolkan aspek budaya dan komunitas. Kita harus melihat laut bukan sebagai pemisah yang menakutkan, melainkan sebagai ruang bersama yang dikelola masyarakat lokal,” ujarnya.
Melani mencontohkan berbagai inisiatif masyarakat, seperti rehabilitasi mangrove di Kampung Dadap dan Muara Gembong yang dilakukan secara swadaya. Praktik tersebut menunjukkan bahwa masyarakat lokal memiliki kapasitas untuk menjaga lingkungan apabila diberi ruang dan pengakuan.
Melani juga menyoroti paradoks konektivitas Indonesia sebagai negara kepulauan. Dalam banyak kasus, warga dari satu pulau harus terbang ke Jakarta terlebih dahulu untuk mencapai pulau tetangganya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan masih berorientasi pada pusat, belum sepenuhnya berpijak pada logika kepulauan.
Ketua Program Studi Pascasarjana Asia Tenggara dan Asia Timur Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI Amelia Burhan, menilai bahwa konsep pola pikir kepulauan mengajak masyarakat melihat dunia bukan sebagai sistem tunggal yang seragam, tetapi sebagai jejaring berbagai identitas, budaya, dan komunitas yang berbeda namun saling terhubung.



