Hari Ini dan Besok Komet Hijau Berada Paling Dekat dengan Bumi

Komet hijau dengan nama resmi komet C/2022 E3 (ZTF) pada 28 Januari 2023. FOTO: DAN BARTLETT/ASTROBIN.COM

Darilaut – Bila cuaca cerah di malam yang gelap, pada hari ini Rabu (1/2) hingga besok Kamis (2/2) komet hijau yang hanya dapat disaksikan sekali seumur hidup, akan berada paling dekat dengan Bumi.

Dalam perjalanan melalui Tata Surya bagian dalam, komet dengan nama resmi C/2022 E3 (ZTF) berada di perigee atau paling dekat dengan planet kita yang indah, tanggal 1 Februari.

Pada 1 Februari, ketampakan awal komet terjadi setelah Matahari terbenam karena waktu terbit komet terjadi sebelum Matahari terbenam.

Sebelumnya komet ini berada di perihelion, paling dekat dengan Matahari, pada tanggal 12 dan 13 Januari 2023.

Peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Andi Pangerang, mengatakan, saat melintas dekat Bumi, komet ini sudah dapat disaksikan di seluruh Indonesia sejak tanggal 1 Februari pukul 18.30 hingga 2 Februari pukul 02.30 waktu setempat (sesuai zona waktu masing-masing) dari arah Utara dekat konstelasi Camelopardalis.

Komet ini diperkirakan akan melintas dekat Bumi pada 2 Februari pukul 00.32 WIB / 01.32 WITA / 02.32 WIT pada jarak 42.472.000 km dari Bumi.

Mengutip Apod.nasa.gov, komet C/2022 E3 (ZTF) ditemukan oleh para astronom dengan menggunakan kamera survei lapangan luas di Zwicky Transient Facility pada awal Maret tahun lalu.

Sejak saat itu komet periode panjang yang baru tersebut telah menjadi sangat cerah dan berada di konstelasi utara Corona Borealis di langit subuh.

Zwicky Transient Facility adalah nama dari sebuah fasilitas pengamatan astronomis dengan medan pandang yang lebar, yang menggunakan kamera yang terhubung dengan teleskop Samuel Oschin di Observatorium Palomar, California, Amerika Serikat.

Menurut Andi, komet ini hanya melintas satu kali dalam seumur hidup karena orbitnya yang berbentuk hiperbola. Orbit hiperbola adalah orbit yang mempunyai nilai kelonjongan atau eksentrisitas lebih besar dari satu, sehingga membentuk kurva terbuka di kedua titik fokusnya.

Bandingkan dengan orbit parabola yang kelonjongannya tepat bernilai satu, maupun orbit elips yang kelonjongannya antara 0 hingga 1.

Kecerlangan komet ini saat melintas dekat Bumi mencapai +4,94. Sehingga, komet ini memungkinkan dapat diamati menggunakan mata kepala untuk wilayah berpolusi cahaya sangat rendah (daerah pedalaman) hingga ringan (daerah pedesaan).

Sementara, untuk wilayah berpolusi cahaya sedang (daerah pinggir kota / suburban) hingga tinggi (daerah perkotaan/urban) cukup sulit mengamati komet ini.

Komet ini dapat diamati tanpa menggunakan alat bantu optik untuk daerah pedalaman dan pedesaan hingga 13 Februari, sejak pukul 18.30 hingga 01.00 waktu setempat dari arah Utara hingga Barat dekat konstelasi Taurus.

Untuk dapat melihat komet ini, cukup mencari tempat yang bebas dari polusi cahaya, medan pandang bebas dari penghalang saat mengamati komet, dan tentunya kondisi cuaca cerah.

Komet ini dapat diabadikan dengan menggunakan kamera DSLR, kamera CCD yang terpasang dengan teleskop dan terhubung dengan laptop/komputer.

Mengutip Kantor Berita Associated Press (AP) komet hijau melesat ke arah Bumi setelah 50.000 tahun. Komet ini mendekati Bumi dalam jarak 26 juta mil (42 juta kilometer) dari Bumi Rabu sebelum melaju lagi, tidak mungkin kembali selama jutaan tahun.

Astronom University of Hawaii Karen Meech menjelaskan komet itu akan cerah karena jaraknya yang dekat dengan Bumi yang memungkinkan para ilmuwan untuk melakukan lebih banyak eksperimen dan publik dapat melihat komet yang indah.

Para ilmuwan yakin dalam perhitungan orbit mereka menempatkan ayunan terakhir komet melalui lingkungan planet tata surya pada 50.000 tahun yang lalu.

Tapi mereka tidak tahu seberapa dekat itu datang ke Bumi atau apakah itu bahkan terlihat oleh Neanderthal, kata Chodas, Direktur Pusat Studi Objek Dekat Bumi di Jet Propulsion Laboratory NASA di California.

Sumber: Apod.nasa.gov, Lapan.go.id dan Apnews.com (AP)

Exit mobile version