Jika tidak menggunakan satelit, maka deteksi dini bencana akan sangat lama. Belum lagi saat bencana terjadi terdapat potensi sejumlah infrastruktur di permukaan bumi seperti listrik dan telekomunikasi lumpuh.
Hanya dengan satelit segala kendala telekomunikasi dapat diatasi sehingga mitigasi bencana dapat dilakukan secara seksama sehingga mampu menekan munculnya korban.
Saat bencana terjadi, baik itu gempa bumi, tsunami, dan bencana hidrometeorologi lainnya, sistem telekomunikasi elektrik itu akan kolaps atau mati.
Kita tidak bisa menggunakan komunikasi berbasis handphone dan sebagainya karena kolaps apalagi terjadi gempa besar seperti di Palu, tidak ada komunikasi yang bisa dilakukan.
Bagaimana masyarakat bisa menyelamatkan diri kalau tidak ada komunikasi andal, sehingga diperlukan satelit berbasis komunikasi yang bisa digunakan saat terjadi gempa yang sangat kuat sekali, sehingga masyarakat bisa mendapat informasi untuk menyelamatkan diri.
Sementara itu di forum kuliah umum yang sama, ahli satelit asal Indonesia yang kini bekerja di Chiba University (Jepang) Prof Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, mengatakan, dalam membuat satelit memerlukan proses yang panjang guna mendapatkan ide dan membangun modelnya.
Selanjutnya, kata Sumantyo, pembangunan satelit perlu membuat sensor “remote sensing” dites di laboratorium, dilakukan uji terbang dengan pesawat, kemudian dibangun kemudian diluncurkan ke orbit bumi.





Komentar tentang post