• Peningkatan pemantauan pasar sirip hiu.
• Mengembangkan penanda genetik spesifik wilayah untuk membantu memastikan bahwa peraturan perdagangan internasional spesies yang terancam punah dipatuhi.
McInturf mengatakan peningkatan kesadaran publik tentang hiu juga dapat membantu. Misalnya, mereka rentan terhadap serangan kapal saat mereka makan di permukaan.
Jadi pendidikan bagi pelaut adalah bagian penting dari konservasi mereka.
Rekan penulis tambahan studi ini termasuk Barbara Muhling dan Joseph Bizzarro (UC Santa Cruz and NOAA’s Southwest Fisheries Science Center), David Ebert (the Pacific Shark Research Center; Moss Landing Marine Labs), dan Nann Fangue dan Damien Caillaud (UC Davis).
Hiu Basking di Indonesia
Belum banyak yang diketahui mengenai keberadaan spesies ini. Seperti karakteristik sejarah, biologi dan ekologi ikan tersebut. Hiu basking menjelajahi samudera dan tidak berdiam di satu perairan.
Peneliti hiu, Fahmi, mengatakan spesies hiu basking (Cetorhinus maximus) sudah 2 kali ditemukan di perairan Indonesia.
“Di Indonesia, basking shark sudah dua kali tercatat ditemukan, selain yang terdampar di Bali, juga pernah tertangkap oleh nelayan Lamakera beberapa tahun setelahnya,” kata Fahmi, Senin (25/5/2020).
Salah satu penelitian telah diterbitkan di Marine Biodiversity Records dengan judul “First record of the basking shark Cetorhinus maximus (Lamniformes: Cetorhinidae) in Indonesia.”





Komentar tentang post