Minggu, Agustus 2, 2026
Beri Dukungan
redaksi@darilaut.id
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Masuk
  • Daftar
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Home Berita

Jagung Hasil Rekayasa Genetika Butuh Modal Besar, Petani Kecil Sulit Mengakses Bibit

redaksi
30 Juni 2025
Kategori : Berita
0
Jagung Hasil Rekayasa Genetika Butuh Modal Besar, Petani Kecil Sulit Mengakses Bibit

Jagung. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Jagung hasil rekayasa genetika (Genetically modified Maize) membutuhkan modal besar, banyak petani kecil mengalami kesulitan untuk mengakses bibit ini.

Sementara benih jagung lokal dapat disebarluaskan, diwariskan dan dibagikan tanpa batasan legal.

“Salah satu temuan penting bahwa benih hasil rekayasa ini tidak dapat dibagikan secara bebas karena terikat oleh regulasi dan kepemilikan Perusahaan,” kata peneliti Global Institute Against Transnational Organized Crime (GI-TOC), Vindi Kurniawan dalam webinar Humans and Non Human Relations yang diselenggarakan Pusat Riset Kewilayahan (PRW) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Bibit jagung hasil rekayasa genetika membutuhkan input tinggi dan sistem produksi yang intensif.

Bibit ini hanya dapat digunakan oleh petani bermodal besar karena memerlukan banyak tenaga kerja, pupuk, dan pestisida dalam jumlah besar.

Sebaliknya, bibit lokal memungkinkan praktik pertanian tumpang sari yang lebih berkelanjutan dan sesuai dengan kapasitas petani kecil.

Tanaman seperti jagung, padi, atau sagu bisa menjadi agen relasional yang menghubungkan dan sekaligus memisahkan berbagai aktor: negara, petani kecil, masyarakat adat, dan korporasi.

Vindi mengatakan ketika tanaman dimasukkan ke dalam skema produksi massal berbasis teknologi tinggi, konsekuensinya adalah skala lahan yang besar, kebutuhan input tinggi, dan sering kali mengorbankan lahan adat.

Halaman 1 dari 3
123Selanjutnya
Tags: BRINGenetically modified MaizeJagungJagung Hasil Rekayasa GenetikaJagung LokalSektor Pertanian
Bagikan1Tweet1KirimKirim
Previous Post

Prof. Fitryane: Lahan Sangat Kritis di Provinsi Gorontalo Melonjak Empat Kali Lipat

Next Post

Penambangan Pasir di Pulau Citlim Berpotensi Mengganggu Ekosistem Pesisir

Postingan Terkait

Kontribusi Sektor Kelautan Rendah, Profesor Riset BRIN Dorong Omnibus Law Kelautan

Kontribusi Sektor Kelautan Rendah, Profesor Riset BRIN Dorong Omnibus Law Kelautan

2 Agustus 2026
Bibit Siklon Tropis 94W Beri Dampak Gelombang Laut di Sangihe dan Talaud

Bibit 94W Menguat Menjadi Depresi Tropis di Laut Filipina

2 Agustus 2026

Topan Super Dolphin Sedikit Melemah di Timur Laut Kepulauan Mariana Utara

Wisuda ke-62, UNG Kukuhkan 700 Lulusan

Sambut Ribuan Mahasiswa Baru UNG Perkenalkan Logo dan Maskot Simbol Kampus Berdampak

Bibit Siklon Tropis 94W Beri Dampak Gelombang Laut di Sangihe dan Talaud

El Niño Masih Dapat Mengalami Penguatan

BMKG Pantau 1.729 Titik Panas di Sejumlah Wilayah di Indonesia

Next Post
Penambangan Pasir di Pulau Citlim Berpotensi Mengganggu Ekosistem Pesisir

Penambangan Pasir di Pulau Citlim Berpotensi Mengganggu Ekosistem Pesisir

TERBARU

Kontribusi Sektor Kelautan Rendah, Profesor Riset BRIN Dorong Omnibus Law Kelautan

Bibit 94W Menguat Menjadi Depresi Tropis di Laut Filipina

Topan Super Dolphin Sedikit Melemah di Timur Laut Kepulauan Mariana Utara

Wisuda ke-62, UNG Kukuhkan 700 Lulusan

Sambut Ribuan Mahasiswa Baru UNG Perkenalkan Logo dan Maskot Simbol Kampus Berdampak

Bibit Siklon Tropis 94W Beri Dampak Gelombang Laut di Sangihe dan Talaud

AmsiNews

REKOMENDASI

Riwayat Penyelamatan Toa, Bayi Orca yang Terdampar di Selandia Baru

Kekeringan dan Kesulitan Air Bersih Meluas

Ini Cara Penerapan Metode Statistika Analisis Runtun Waktu

Keanekaragaman Hayati Pilar Penting untuk Pembangunan Berkelanjutan

Wahana Antariksa Rusia Pernah Jatuh di Gorontalo Tahun 1981

Topan Neoguri Menguat Secara Bertahap di Timur Jepang

Kategori

  • Advertorial
  • Berita
  • Biota Eksotis
  • Bisnis dan Investasi
  • Cek Fakta
  • Eksplorasi
  • Hiu Paus
  • Ide & Inovasi
  • Iklim
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Konservasi
  • Laporan Khusus
  • Orca
  • Pemilu & Pilkada
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Travel
  • Video

About

  • Tentang
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Terms of Use
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Trustworthy News Indicators
Dari Laut

darilaut.id

Menginformasikan berbagai perihal tentang laut, pesisir, ikan, kapal, berita terkini dan lain sebagainya.

redaksi@darilaut.id
+62 851 5636 1747

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

Selamat Datang Kembali

Masuk dengan Facebook
Masuk dengan Google+
Atau

Masuk Akun

Lupa Password? Mendaftar

Buat Akun Baru

Mendaftar dengan Facebook
Mendaftar dengan Google+
Atau

Isi formulir di bawah ini untuk mendaftar

Isi semua yang diperlukan Masuk

Ambil password

Masukan username atau email untuk mereset password

Masuk
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Home
  • Berita
  • Pemilu & Pilkada
  • Laporan Khusus
  • Eksplorasi
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Ide & Inovasi
  • Konservasi
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Orca
  • Hiu Paus
  • Bisnis dan Investasi
  • Travel
  • Iklim
  • Advertorial

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.