Dalam kondisi panas ekstrem, tubuh berusaha mempertahankan keseimbangan suhu melalui berbagai mekanisme fisiologis. Salah satu respons utama adalah vasodilatasi perifer, yaitu pelebaran pembuluh darah di kulit untuk melepaskan panas.
Proses ini meningkatkan aliran darah ke permukaan tubuh sehingga panas dapat dilepaskan melalui keringat dan penguapan. Namun, mekanisme kompensasi ini juga memberikan beban besar pada jantung. Ketika pembuluh darah melebar, tekanan darah cenderung menurun.
Untuk mempertahankan aliran darah ke organ vital, jantung harus bekerja lebih keras dengan meningkatkan denyut jantung dan curah jantung. Pada individu yang sehat, mekanisme ini mungkin masih dapat ditoleransi. Namun, pada kelompok rentan seperti lansia, penderita penyakit jantung, atau individu dengan penyakit kronis, peningkatan beban kerja jantung dapat memicu gangguan serius seperti aritmia, hipotensi, bahkan henti jantung mendadak.
Selain efek hemodinamik, panas ekstrem juga dapat menyebabkan kerusakan langsung pada sel jantung.
Penelitian menunjukkan bahwa suhu tinggi dapat merusak struktur mitokondria di dalam sel, yang berperan penting dalam produksi energi. Kerusakan ini memicu stres oksidatif, pelepasan radikal bebas, serta proses kematian sel yang dapat mengganggu fungsi jantung secara keseluruhan.




