Darilaut – Keanekaragaman hayati (Biological Diversity) mendukung ketahanan pangan, mata pencaharian, kesehatan, dan ketahanan iklim.
Sekitar tiga miliar orang makan ikan untuk 20 persen dari asupan protein hewani mereka, dan 80 persen populasi pedesaan di negara berkembang bergantung pada obat-obatan nabati.
Namun perusakan habitat alami juga meningkatkan risiko penularan penyakit zoonosis, menjadikan pelestarian keanekaragaman hayati sebagai faktor kunci dalam kesehatan global.
“Hidup selaras dengan alam dan pembangunan berkelanjutan adalah jalan umat manusia menuju dunia yang lebih baik untuk semua,” kata Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres, mengutip UN News.
Guterres menyampaikan pesan tersebut menandai Hari Keanekaragaman Hayati Internasional (International Day for Biological Diversity). Menurut Sekjen PBB, hilangnya keanekaragaman hayati menuntut tindakan global yang mendesak.
Pada tahun 2000, PBB secara resmi menetapkan 22 Mei sebagai Hari Keanekaragaman Hayati Internasional untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran akan masalah keanekaragaman hayati. Tanggal tersebut juga menandai adopsi Konvensi Keanekaragaman Hayati (Convention on Biological Diversity, CBD) pada 1992.
Tahun ini, tema hari Keanekaragaman Hayati “Harmoni dengan Alam dan Pembangunan Berkelanjutan”. Tema ini menyoroti bagaimana rencana alam terhubung dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Kedua agenda tersebut harus maju bersama karena saling mendukung.




