Menurut Andhika, genetika hiu dan pari di Indonesia yaitu biaya reagent mahal, akses mesin sequensing relatif terbatas, butuh teknik uji yang cepat dan terjangkau, volume pemeriksaan yang tinggi.
Kondisi iklim Indonesia yang humid juga menjadi pertimbangan dalam pengembangan teknologi dan inovasi.
“Jika biaya dikesampingkan, saat ini teknik molekuler berkembang sangat pesat mulai dari teknologi sekuensing, mesin, reagent hingga perkembangan bioinformatika,” kata Andhika.
Adapun teknik molekuler yang berkembang untuk ketertelusuran perdagangan di antaranya barcoding konvensional, mini barcoding, PCR-RFLP.
Kemudian real-time PCR, LAMP genetic, Lab-on-chip, hingga pengembangan DNA metabarcoding untuk membantu ketertelusuran berupa Shark-dust, kata Andhika.
Andhika menyimpulkan, teknik genetika hanyalah alat pelengkap dan penting untuk mempertimbangkan keterbatasannya. Pemetaan genom dan pengembangan referensi database suatu keharusan untuk mendukungan pengembangan teknik genetik ke depannya.
Populasi hiu dan pari di Indonesia mengalami penurunan akibat penangkapan, perubahan lingkungan, kerusakan habitat, nilai ekonomi, dan kebutuhan pangan.
Hiu dan pari di Indonesia merupakan sumber protein paling terjangkau tidak hanya di pesisir juga oleh kaum urban.




