“Tugas kita adalah menciptakan sebanyak-banyaknya ruang persamaan dan merawatnya dengan baik. Mulai dari kesaaman sebagai manusia ciptaan Allah (ukhuwah basyariyah), sesama warga bangsa (ukhuwah wathoniyah), sesama umat Islam (ukhuwah Islamiyah) dan titik-ruang persamaan lainnya,” kata M Nuh.
Setiap kali kita memasuki bulan Zulhijah, kata M Nuh, kita diingatkan tentang pentingnya meneladani Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Ada beberapa nilai keteladanan yang bisa kita ambil, antara lain:
(1) pentingnya hujjah atau pola pikir berbasis rasionalitas di dalam proses mencari kebenaran. Oleh karena itu dalam ilmu tauhid dikenalkan dalil aqli sebagai instrumen untuk mencari kebenaran. Dalam kondisi normal (obyektif-tidak ada interes tertentu) dalil aqli tersebut sifatnya lazim (common sense).
(2) pentingnya membangun dalam skala dzurriyat (generasi bergenerasi), yang berbasis pada tiga hal: tilawah (skills), ta’allum (knowledge), dan tazkiyah (attitude).
Dan (3) Kisah tentang kepatuhan Nabi Ismail AS terhadap Nabi Ibrahim AS. Kepatuhan sang anak kepada orang tuanya. Tentang pentingnya kesejatian Pemimpin dan kepemimpinannya (leadership) serta kesejatian pengikut dan kepatuhannya (followership).
“Tentu akan menjadi semakin sempurna, dalam membangun bangsa dan negara memiliki nilai spiritualitas, yang manfaatnya tidak hanya selama di dunia saja, tetapi juga sampai di akhirat. Untuk itu, kita niatkan ikhtiar memajukan bangsa sebagai bagian dari ibadah. Dan di sinilah pentingnya memahami secara utuh perjalanan kehidupan manusia,” kata M Nuh.





Komentar tentang post