Dekan FPIK Unair, Moch Amin Alamsjah mengharapkan webinar ini dapat mendorong inovasi yang dapat meningkatkan potensi perekonomian nasional, sekaligus menimbulkan rasa cinta terhadap Indonesia.
“Saya yakin kerja sama ini dapat dilanjutkan pada aspek lainnya dalam lingkup pengabdian masyarakat,” katanya.
Koordinator Kegiatan Penelitian Arwana di BRBIH, Rendy Ginanjar, mengatakan penelitian arwana di BRBIH telah dimulai sejak 2005. Sampai saat ini riset arwana telah dilakukan untuk arwana Papua, arwana Red Banjar, arwana Hijau Silver Brasil dan arwana Super Red.
Untuk menyelamatkan spesies tersebut, BRBIH sejak tahun 2020 melaksanakan penelitian arwana Super Red, yang meliputi identifikasi jenis kelamin secara cepat dan murah.
Melaksanakan percepatan rematurasi pematangan gonad melalui stimulasi pakan dan hormonal (menggunakan ekstrak kaktus maupun menggunakan dosing hormone). Kemudian, peningkatan kapasitas reproduksi arwana Super Red, serta perbaikan sistem pemeliharaan induk dan benih arwana Super Red.
Menurut Rendy arwana memiliki berbagai macam jenis seperti Golden Red, Red Banjar, Irian, Silver dan Super Red. Namun faktanya hanya arwana jenis Super Red asal Kalimantan Barat yang paling banyak diburu.
Nilai ekspor arwana Super Red cukup besar. Pada tahun 2018, arwana Super Red yang terjual mencapai 4.058 ekor dengan nilai Rp10,145 miliar, dan di tahun 2019 volume ekspor menjadi 2.360 ekor atau senilai Rp2,575 miliar.





Komentar tentang post