Dalam siaran pers, BMKG menyampaikan komitmen untuk terus memperkuat sistem observasi, memperluas jaringan, dan “meningkatkan layanan agar masyarakat Indonesia semakin terlindungi dan siap menghadapi tantangan perubahan iklim,” kata Faisal.
Ketua Hari Meteorologi Sedunia 2026 BMKG, Rahmat Triyono, mengatakan BMKG memegang peran strategis dalam memastikan Indonesia memiliki sistem observasi dan informasi meteorologi yang andal.
Observasi berkesinambungan dilakukan seluruh insan BMKG dengan memantau setiap pergerakan atmosfer melalui berbagai jaringan observasi yang kompleks, mulai dari stasiun meteorologi di darat, radar cuaca, satelit pengamatan bumi, buoy laut, hingga sensor otomatis.
Saat ini, kata Rahmat, BMKG mengoperasikan lebih dari 180 stasiun meteorologi, klimatologi, dan geofisika serta 44 radar cuaca.
Dukungan ini memungkinkan BMKG secara rutin menyampaikan peringatan dini cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi sebagai dasar pengambilan langkah kesiapsiagaan, kata Rahmat.
Melalui perpaduan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan ketelitian para ahli BMKG, jutaan data observasi dikembangkan menjadi peringatan dini cuaca dan iklim yang dapat segera direspons masyarakat.
Kemampuan pengamatan terus didorong dengan beragam produk data dan informasi, seperti prakiraan cuaca harian-mingguan, prediksi iklim bulanan-tahunan, hingga proyeksi perubahan iklim, yang dibutuhkan seluruh sektor masyarakat.




