Frasa ’laki-laki sebagai pemimpin’ secara sadar juga dapat dimaknai bahwa ada pembedaan (jenis kelamin tertentu) sebagai calon pemimpin, hal ini akan menghambat partisipasi perempuan dalam kontestasi Pilkada ke depan. Fenomena Glass ceiling benar-benar terjadi, jalan terjal perempuan memimpin semakin panjang.
Padahal, kesetaraan gender adalah salah satu upaya mewujudkan demokratisasi: membuka peluang dan kesempatan bagi seluruh masyarakat dari segala lapisan untuk ikut serta dalam proses demokratisasi itu sendiri. Bagaimana bisa demokrasi akan terwujud jika dalam penyelenggaraannya diawali dengan perspektif yang bias gender…
Apa ini masih erat kaitannya dengan stigma laki-laki menjadi pemegang penuh atas kekuasaan? Melihat dari sejarah yang ada kepemimpinan Gorontalo keberpihakannya dominan pada kaum laki-laki, padahal saat ini sudah banyak komunitas/organisasi yang menyuarakan perihal kesetaraan gender.
Tidak hanya stigma, diskriminasi dan marjinalisasi banyak dialami perempuan, dan meskipun banyak yang menyuarakan, tapi lagi-lagi terbenturnya di cara pandang. Kalau masih bias, maka kebijakan yang diambil baik lewat program/kegiatan tetap akan bias dan tidak adil.
Apa ini jadi salah satu siasat untuk secara simbolik mempertegas pemimpin sudah seharusnya laki-laki?




