Jejak Sejarah Maritim Indonesia, Bajak Laut Sembunyikan Rampasan di Pulau Terpencil

Kapal uap Zr. Ms. ”Celebes” memerangi bajak laut di Pulau Kanamit (?) karya W. Steffhens. Sumber: Archipelago Press (1995)/Adrian B. Lapian, “Orang Laut Bajak Laut Raja Laut”, Komunitas Bambu (2009).

Darilaut – Sejarah maritim Indonesia bukan hanya mengenai perdagangan rempah-rempah dan komoditi lainnya di masa lalu. Pulau-pulau kecil juga berperan bagi bajak laut dan perdagangan masa lampau.

Praktik para bajak laut yang menyembunyikan hasil rampasan di pulau-pulau terpencil ini salah satu temuan menarik Abdul Rahman Hamid dari Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung yang disampaikan dalam acara  A.B. Lapian Memorial Lectures.

Kemudian, bajak laut ini menunggu waktu aman untuk mengambil kembali barang rampasan di pulau-pulau kecil tersebut.

Abdul menelusuri jejak-jejak sejarah bahari sejak 2007 melalui pelayaran langsung, wawancara dengan para pelaut, hingga menggali arsip di Makassar, Jakarta, dan daerah lain.

Melakukan observasi ke pulau-pulau kecil di Selat Makassar. Di tempat itu tersimpan banyak peninggalan sejarah bajak laut dan perdagangan masa lampau.

Abdul menyampaikan materinya dengan tema “Dari Rempah ke Kopra : Membaca Jejak Historis Jalur Maritim dalam Perspektif Keadilan Sosial”.

Dalam kajian sejarah maritim Indonesia, rempah-rempah selama berabad-abad mendominasi jalur perdagangan dunia, menjadikan wilayah Nusantara sebagai magnet bagi kekuatan global. 

Namun, seiring waktu, dominasi rempah perlahan tergantikan oleh komoditas baru, seperti teripang dan kemudian kopra. Pergeseran ini bukan hanya perubahan ekonomi, tetapi juga mencerminkan dinamika sosial, budaya, dan politik yang membentuk masyarakat bahari Nusantara.

Abdul juga menjelaskan bahwa perdagangan kopra membawa keterlibatan aktif dari masyarakat lokal seperti Buton dan Mandar. Jika sebelumnya jalur rempah dikuasai oleh orang Eropa, maka dalam perdagangan kopra muncul pelaku baru pedagang Tionghoa.

“Dalam struktur perdagangan maritim, pelabuhan Makassar memainkan peran penting sebagai entrepot atau pelabuhan utama,” kata Abdul.

Pelabuhan ini menjadi titik kumpul komoditas dari berbagai collecting centers seperti Selayar, Mandar, Donggala, hingga Maluku.

Makassar bukan hanya pelabuhan strategis secara geografis, tetapi juga memiliki fasilitas pendukung seperti gudang, akses air bersih, dan jalur sungai yang memudahkan distribusi ke pedalaman.

Kopra tidak hanya membawa kesejahteraan, tetapi juga menjadi sumber konflik. Pada masa pemberontakan DI TII di Sulawesi dan masa-masa awal pembentukan TNI, kopra menjadi komoditas yang diperebutkan oleh berbagai pihak.

Akibatnya, beberapa kampung di Mandar terbakar habis pada tahun 1956–1957, memicu diaspora besar-besaran masyarakat Mandar ke pulau-pulau kecil di Kalimantan Selatan.

Selat Makassar. GAMBAR: GOOGLE EARTH

A.B. Lapian Memorial Lectures (ABLML) kerja sama Pusat Riset Masyarakat dan Budaya (PRMB)  Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkolaborasi dengan Pusat Riset Arkeologi, Lingkungan, Maritim dan Budaya Berkelanjutan BRIN, serta Yayasan Negeri Rempah. Kegiatan ini dilaksanakan di Kampus BRIN KST Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, Selasa (23/09).

Tema yang diusung “Laut sebagai Ruang Ingatan dan Perubahan: Warisan A.B. Lapian untuk Masa Depan Maritim yang Berkeadilan”.

Didik Pradjoko dari Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia membahas tema “Timor dalam jaringan perdagangan global: perdagangan cendana”.

Riset itu, menelusuri kawasan Laut Sabu dengan jejak-jejak pelayaran, perdagangan, dan dinamika sosial masyarakat maritim di wilayah timur Indonesia. 

Merefleksi karya-karya A.B. Lapian, baginya menghidupkan kembali narasi bahari sebagai pusat sejarah Nusantara, bukan sekadar pelengkap narasi daratan.

Didik menjelaskan dinamika perdagangan cendana, teripang, dan gaharu sebagai komoditas unggulan yang menjadi penggerak ekonomi maritim di kawasan Timur Indonesia. 

Didik menyoroti bagaimana perdagangan cendana telah tercatat dalam laporan-laporan kuno dari Tiongkok, Sri Lanka, hingga ke Yunani dan Mesir, membuktikan keterhubungan global Nusantara sejak lama.

Didik menguraikan pentingnya sejarah lisan sebagai sumber utama dalam merekonstruksi masa lalu maritim Indonesia.

Menurut Didik berbagai tradisi lisan dari Larantuka, Alor, dan Solor yang menyebut nama Majapahit sebagai leluhur spiritual dan politik. Ini menandakan besarnya pengaruh kerajaan tersebut hingga ke wilayah Timur Indonesia.

Plt. Kepala Pusat Riset Masyarakat dan Budaya BRIN, Aulia Hadi, mengatakan, laut sangat penting bagi manusia sebagai laboratorium masa depan yang menjadi ruang refleksi, kolaborasi, dan inovasi, untuk mewujudkan masa depan maritim yang berdaulat dan berkeadilan.

Aulia menjelaskan bahwa Adrian Bernard Lapian (A.B. Lapian) dikenang sebagai pelopor historiografi maritim Indonesia.

Gagasan-gagasannya menjadi inspirasi forum ini sejak 2020, yang kini telah berkembang menjadi ruang diskusi lintas disiplin. 

Tahun ini, A.B. Lapian Memorial Lectures menekankan pentingnya laut bukan saja sebagai ruang sejarah, tetapi juga sebagai medan perjuangan menghadapi isu-isu kontemporer. Seperti ”krisis iklim, ketimpangan sosial, dan dekolonisasi pengetahuan,” ujar Aulia.

Exit mobile version