Pandangan Akademisi: Risiko Proyek Mercusuar
KNMP sebagai konsep yang menjanjikan tetapi berisiko menjadi proyek mercusuar jika tata kelola diabaikan. KNMP cenderung menitikberatkan pembangunan fisik seperti dermaga, pabrik es, dan cold storage di desa/ kelurahan penerima program, sementara aspek manajemen, pasar, dan pendanaan operasional setelah proyek selesai belum tergambar jelas.
Jika proyek tanpa skema bisnis, kontrak pembeli, pengelola profesional, dan aftercare anggaran, fasilitas yang dibangun hanya menjadi “monumen dingin” yang jarang dimanfaatkan masyarakat. Selain itu, memperlihatkan bahwa keberhasilan KNMP tidak bisa diukur hanya dari selesainya bangunan, tetapi harus menyentuh aspek pengelolaan dan keberlanjutan.
Tantangan Kapasitas Lokal dan Tata Kelola
Kapasitas lokal dan tata kelola penting karena menyentuh inti tantangan program. Dengan cakupan 65 lokasi desa dan kelurahan serta tempo pelaksanaan yang cepat, kapasitas lokal sering kali tidak siap. Konstruksi bisa selesai sesuai kontrak, tetapi pengoperasian membutuhkan sumber daya manusia, prosedur kerja, jaringan pemasok bahan baku, pengumpulan ikan, kontrol mutu, dan pencatatan stok yang jarang dapat berjalan secepat itu.
Masalah tata kelola juga menyangkut kelembagaan di tingkat desa dan kelurahan. Banyak kampung pesisir sudah memiliki BUMDes atau koperasi lokal. Kehadiran entitas baru seperti koperasi “Merah Putih” tanpa pembagian peran yang jelas dapat memunculkan perebutan aset dan kewenangan pengelolaan. Program ini semestinya dirancang sebagai kemitraan dengan lembaga lokal yang sudah ada, menggunakan perjanjian pengelolaan yang jelas agar tidak terjadi konflik kepentingan.




