Model NIAR lahir dari kepedulian terhadap meningkatnya tekanan psikologis yang dialami mahasiswa.
“Model NIAR kami hadirkan sebagai upaya untuk memperkuat peran Dosen Penasihat Akademik dalam mengenali, mendampingi, dan membantu mahasiswa yang mengalami tekanan psikologis,” kata Yuniar yang resmi meraih gelar doktor melalui Sidang Promosi Doktor yang dilaksanakan di ruang sidang Promosi Doktor Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (UI), pada Senin (6/7).
Yuniar berharap Model NIAR dapat diintegrasikan ke dalam kebijakan kampus secara lebih luas, baik di tingkat daerah maupun nasional. Dengan demikian, perguruan tinggi dapat menjadi ruang yang tidak hanya mencetak lulusan cerdas, tetapi juga generasi muda yang tangguh secara mental.
Harapan kami, kata Yuniar, model NIAR dapat menjadi bagian dari sistem pendampingan mahasiswa di perguruan tinggi. Jika diterapkan secara konsisten, model ini dapat membantu kampus menciptakan lingkungan akademik yang lebih peduli, aman, dan responsif terhadap kesehatan mental mahasiswa.
Melalui riset doktoralnya, Yuniar menghadirkan Model NIAR sebagai solusi konkret untuk menekan angka depresi dan ide bunuh diri di kalangan mahasiswa, khususnya di Provinsi Gorontalo.
Inovasi Model NIAR terbukti memberikan hasil positif. Dalam uji coba terhadap 84 mahasiswa, model ini berhasil meningkatkan resiliensi mahasiswa sebagai salah satu faktor penting dalam menghadapi tekanan akademik, sosial, dan psikologis.




