Kedahsyatan Banjir di China dan Jerman, Terhubung Perubahan Iklim

Sebuah rumah hancur total setelah banjir di Marienthal, Jerman. FOTO: Thomas Frey/dpa via AP/EURONEWS.COM

Darilaut – Bila melihat peta dunia, antara Jerman dan Henan di China berjarak lebih dari 10 ribu kilometer.

Dalam pekan terakhir, di wilayah yang berjauhan itu dilanda banjir dahsyat yang mengakibatkan ratusan orang meninggal dunia dan lebih kurang setengah juta orang mengungsi ke tempat yang aman.

Kedahsyatan banjir di dua negara itu, yang satu berada di dekat Samudera Pasifik Utara dan satunya lagi di Samudera Atlantik Utara dihubungkan dengan perubahan iklim dunia.

Di Provinsi Henan, China tengah, intensitas hujan yang biasanya mengguyur wilayah itu dalam setahun, curahan hanya dalam 3 hari saja.

Hingga 22 Juli, banjir besar yang melanda kota Zhengzhou dan Provinsi Henan pada 20 Juli 2021 menewaskan sebanyak 33 orang dan 8 masih dinyatakan hilang, 3 juta orang telah terkena dampak dan 376.000 orang dievakuasi ke tempat yang lebih aman.

Di Jerman, menurut Euronews.com, korban tewas akibat bencana banjir pekan lalu di seluruh negeri total 177 orang, sementara 32 orang lainnya tewas di negara tetangga Belgia.

Korban meninggal kemungkinan akan bertambah karena lebih dari 100 orang masih hilang di Jerman.

Ketika kehancuran begitu besar, para ilmuwan Eropa sedang bergulat, bagaimana kerusakan seperti itu bisa terjadi di negara terkaya dan paling maju secara teknologi di dunia.

Para ilmuwan sedang memeriksa apakah perubahan iklim menjadi pemicu bencana, dan apa artinya bagi masa depan.

Badai yang terjadi begitu hebat, disusul dengan curah hujan yang menggenangi sungai, kemudian meluap dan menghanyutkan rumah dan mobil serta memicu tanah longsor besar-besaran.

Mengutip Sciencemag.org, para peneliti baru saja mulai mengungkap jaringan kompleks faktor iklim, hidrologis, dan sosial yang berkontribusi terhadap bencana tersebut.

Tetapi mereka sudah memiliki beberapa dugaan, termasuk pemanasan global yang dapat meningkatkan badai hujan dan bencana Eropa yang fokus pada sungai-sungai besar, daripada anak-anak sungai bervolume rendah yang paling parah terkena badai.

Selama bertahun-tahun, para ilmuwan telah memperingatkan perubahan iklim akan berpengaruh pada curah hujan dan banjir.

Sebelumnya, banjir sudah menempati peringkat bahaya alam paling merusak di Eropa Utara. Peristiwa banjir yang mematikan pada tahun 2002. Kemudian pekan lalu, kecepatan dan intensitas banjir di Jerman—terutama di kota-kota yang terletak di dekat anak sungai yang lebih kecil, sangat mengejutkan bagi sebagian besar orang.

Banjir, mengutip Reuters.com, telah menjungkirbalikkan kehidupan di China dan Jerman. Hal ini mengingatkan kita bahwa perubahan iklim membuat cuaca lebih ekstrem di seluruh dunia.

Seorang ilmuwan cuaca dan iklim di Singapore University of Social Sciences, Koh Tieh-Yong, mengatakan, penilaian menyeluruh terhadap sungai dan sistem air akan diperlukan di daerah yang rentan terhadap perubahan iklim, termasuk kota dan lahan pertanian.

Hasil penelitian lainnya yang diterbitkan 30 Juni di jurnal Geophysical Research Letters, perubahan iklim di Eropa kemungkinan akan meningkatkan jumlah badai besar yang bergerak lambat yang dapat bertahan lebih lama di satu daerah dan menimbulkan banjir seperti yang terlihat di Jerman dan Belgia.

Saat atmosfer menghangat dengan perubahan iklim, akan menahan lebih banyak kelembaban. Berarti ketika awan pecah dan hujan, lebih banyak yang dilepaskan. Melalui simulasi komputer, di akhir abad ini, badai seperti itu bisa 14 kali lebih sering bakal terjadi.

Sungai yang meluap dan genangan yang menghancurkan sebagian besar Jerman barat dan selatan, terjadi pula di wilayah yang jaraknya ribuan kilometer di Henan.

Kasus di 2 lokasi yang berbeda tersebut menyoroti kerentanan daerah berpenduduk padat terhadap bencana banjir dan bencana alam lainnya.

Baik di China dan Eropa barat, bencana tersebut mengikuti periode hujan lebat yang tidak biasa. Setara seperti dalam kasus di China dengan curah hujan satu tahun, dicurahkan hanya dalam 3 hari.

Setelah beberapa banjir parah selama beberapa dekade terakhir, penyangga telah diperkuat di sepanjang sungai-sungai besar Jerman seperti Rhine atau Elbe tetapi curah hujan ekstrem minggu lalu juga mengubah anak-anak sungai kecil seperti Ahr atau Swist menjadi aliran deras yang menakutkan.

Sumber:

https://www.sciencemag.org/news/2021/07/europe-s-deadly-floods-leave-scientists-stunned

https://www.reuters.com/business/environment/china-germany-floods-expose-climate-vulnerability-2021-07-22/

https://www.euronews.com/2021/07/22/germany-floods-dozens-still-missing-as-more-heavy-rain-forecast-for-weekend

Exit mobile version