Call Center BBKSDA NTT mendapat laporan adanya serangan buaya muara kepada warga yang sedang mencari ikan secara tradisional dengan menyelam dan memakai senjata panah.
Merespon laporan tersebut, Tim WRU BBKSDA NTT segera terjun ke lapangan dan mengumpulkan informasi tentang korban.
BBKSDA NTT melalui Tim Wildlife Response Unit melakukan upaya penanganan terpadu untuk mengatasi konflik satwa liar, buaya muara dengan manusia.
Pemantauan terhadap posisi buaya muara terus dilakukan agar tidak menimbulkan keresahan warga.
Dalam penanganan terpadu, tim berkoordinasi dengan Tokoh Adat, Tokoh Agama, Lurah dan Aparat serta Tokoh Masyarakat sekitar Teluk Kupang.
Papan imbauan juga dipasang dan ditambah di sejumlah lokasi di pesisir Teluk Kupang, serta terus melakukan pengawasan dan memasang perangkap apung (floating traps) mengingat buaya muara masih berkeliaran di sekitar lokasi.
Menurut Timbul, penanganan Konflik buaya muara dengan manusia yang terjadi di wilayah kerja BBKSDA harus ditangani secara tepat dan komprehensif dan terpadu dengan melibatkan tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, dan Pemerintah.
Hal ini sangat penting karena adanya kearifan lokal yang diyakini oleh masyarakat setempat bahwa buaya memiliki ikatan batin dan hubungan yang erat dengan nenek moyang. Oleh sebab itu penanganan konflik diupayakan untuk dapat menghindari keresahan warga.





Komentar tentang post