Di hunian tersebut kami menemukan gula, garam dan minyak goreng ada di tengah dapur mereka, bahkan terkadang anak mereka yang sudah bermukim di kampung berkunjung membawakan sayuran yang dibeli di warung.
Kondisi senada juga terjadi bagi Orang Togutil di sekitar Dusun Afu dan Tebin-tebin. Menurut penuturan Kepala Desa Lili, hampir setiap hari penduduk dari sana turun ke desa, karena banyak saudara yang sudah keluar hutan. Mereka sudah jamak dengan beras, minyak, dam mie instan.
Sementara, Orang Togutil di Desa Makahar berinteraksi lebih terbatas dengan dunia luar. Berdasarkan keterangan dari staf Taman Nasional Aketajawe Lolobata dan Kepala Desa Lili, sebulan sekali mereka turun ke SP 6 (wilayah transmigrasi) untuk berbelanja beberapa barang terutama garam.
Orang Tugutil keluar hutan sebagian besar mengikuti program permukiman Komunitas Adat Terpencil (KAT) dari Pemerintah. Mereka mendapatkan rumah dan pendampingan untuk bisa berasimilasi dengan lingkungan baru.
Namun, permasalahan baru muncul. Tidak semua dari mereka mampu beradaptasi dan berasimilasi. Meskipun tinggal di perkampungan warga, mereka masih tetap berkebun di dalam hutan. Terkadang mereka berhari-hari tidak pulang untuk tinggal di hutan.
Ada beberapa Orang Tugutil yang sudah keluar hutan, tapi belum memiliki kecakapan untuk mendapatkan uang. Sementara, mereka sulit pergi ke hutan karena semakin jauh. Mereka akhirnya membuat gubuk di pinggir jalan untuk meminta uang dan makanan bagi yang melintas.




