Luh Kitty Katherina, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); Achsanah Hidayatina, M.Sc, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); Intan Adhi Perdana Putri, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Syarifah Aini Dalimunthe
Awal November lalu, beredar sebuah video yang menggambarkan dua orang yang berani mengusir buldoser untuk melindungi hutan mereka.
Dengan judul yang menarik, “Viral, Suku Pedalaman di Halmahera Halau Buldoser untuk Lindungi Hutan,” video ditonton lebih dari 3 juta kali dan memancing komentar warganet. https://www.youtube.com/embed/AAYCynMlF48?wmode=transparent&start=0 Video yang diklaim menampilkan Orang Tugutil.
Dalam keterangannya, video tersebut menginformasikan bahwa dua orang itu adalah O’Hongana Manyawa, atau Orang Tugutil yang mendiami sebagian wilayah pulau tersebut.
Kami merasa bingung. Kami sebelumnya pernah menemukan video serupa dua tahun lalu.
Terlepas dari kebenarannya, video ini seperti memperpanjang daftar stereotipe masyarakat terhadap Orang Tugutil yang kerap dianggap sebagai pembunuh jahat, bahkan dianggap sebagai orang tidak berbudaya.
Apakah benar begitu?
Dua tahun lalu, kami, tim dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI (kini menjadi Badan Riset dan Inovasi Nasional/BRIN) bersama Badan Pusat Statistik (BPS) mengadakan penelitian lapangan seputar Orang Togutil di Halmahera Timur. Selama 15 hari, kami mendatangi beberapa kelompok Orang Tugutil, mengobservasi titik-titik hunian mereka di luar maupun di dalam hutan, dan mewawancarai beberapa di antaranya. https://www.youtube.com/embed/IjylOJTaiWE?wmode=transparent&start=0 Riset sosial demografi masyarakat adat yang kami lakukan bersama BPS pada 2021.




