Kajian Viela Luckycia, Lilis Sulistyorini, Firda Azkiya Nisa’ Fadholi, Khansa Abida Arumdapta, dan Wildy Ariabima Kresnaya dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, logam berat yang telah mencemari lingkungan kemudian masuk ke rantai makanan melalui proses akumulasi dalam organisme air, seperti kerang dan ikan. Proses ini dikenal sebagai biomagnifikasi, yaitu peningkatan konsentrasi bahan beracun dalam jaringan organisme pada tingkat trofik yang lebih tinggi.
Akhirnya, logam berat tersebut mencapai manusia sebagai konsumen akhir, yang mengkonsumsi ikan dan makanan laut lainnya secara rutin, terutama di komunitas pesisir. Kerang, salah satu biota laut yang hidup menetap dan menyaring air laut untuk mendapatkan makanan, sering digunakan sebagai bioindikator pencemaran logam berat.
Hal ini karena kerang sangat rentan mengakumulasi logam berat seperti Pb dalam jaringan tubuhnya, terutama ketika berada di perairan yang telah tercemar. Fakta ini menjadi semakin penting karena kerang merupakan salah satu jenis makanan yang berasal dari laut, banyak orang mengetahui dan juga bahkan mengonsumsinya.
Oleh karena itu, risiko terjadinya toksisitas kronis akibat konsumsi kerang yang terkontaminasi logam berat menjadi perhatian utama, khususnya pada kelompok rentan seperti anak-anak, yang secara fisiologis lebih sensitif terhadap efek neurotoksik dari logam berat. Penelitian menunjukkan bahwa ikan juga dapat berfungsi sebagai bioindikator pencemaran lingkungan.




