Darilaut – Aktivis iklim Polinesia Ludovic Burns Tuki meniupkan triton terompet sebelum negosiasi dalam pertemuan Konferensi Kelautan Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-3 atau Third United Nations Ocean Conference (UNOC3) yang berlangsung di Nice, Prancis.
Triton terompet (Charonia tritonis) atau kerang terompet disebut juga pu, sudah lama dikenal sebagai alat tiup tradisional negara-negara pasifik dan wilayah timur Indonesia.
Siput laut raksasa yang tergolong moluska atau hewan tanpa tulang belakang yang berbadan lunak itu, sebagai penanda konferensi pada pembukaan hari Senin (9/6) sebagai ritual dan refleksi.
“Itu cara untuk memanggil semua orang,” kata Tuki, seperti dikutip dari UN News. “Saya meniup dengan dukungan para leluhur kita.”
Dalam navigasi Polinesia, triton terompet dibunyikan saat baru tiba di pulau untuk menandakan niat damai.
Tuki lahir di Tahiti dari orang tua dari Kepulauan Tuamotu dan Pulau Easter, melihat lautan sebagai batas dan ikatan.
“Kita bukan hanya negara,” katanya. “Kita perlu berpikir seperti sistem kolektif, karena ini adalah satu lautan, satu masyarakat, masa depan untuk semua.”
Segmen budaya tersebut juga mencakup berkat dari sejarawan Tahiti Hinano Murphy, pertunjukan seni bela diri oleh master taekwondo Prancis Olivier Sicard.




