Oleh : Dr. Gybert E. Mamuaya (Ketua Local Project Implementation Unit – Marine Science Education Project (LPIU – MSEP) Unsrat 1988-1993)
Bayangin deh, ilmu kelautan itu kayak kamu lagi naik kapal—bukan kapal biasa, tapi kapal yang punya GPS canggih, peta dari nelayan lokal, dan kompas moral yang kadang suka muter-muter.
Filsafat ilmu kelautan kontemporer itu semacam kapten kapal yang bilang, “Eh, jangan cuma ngintip layar GPS doang, lihat juga ombak, angin, dan suara ikan!”
Jadi, ini bukan cuma soal ngukur suhu air atau ngitung jumlah ikan doang. Kita diajak mikir: kenapa sih kita harus peduli sama laut? Apa cuma buat jual ikan atau ada makna yang lebih dalam? Dan yang lucu, kadang ilmuwan sibuk banget sama angka dan data, sampai lupa tanya sama nelayan yang udah puluhan tahun ‘ngobrol’ sama laut.
Nah, di sinilah filsafat ilmu kelautan masuk, jadi pengingat biar kita nggak cuma jadi ‘robot data’ yang cuek sama budaya, mitos, dan moral masyarakat pesisir.
Ingat Tagaroa, dewa laut yang bukan cuma ngatur ombak tapi juga ngatur hati orang-orang yang bergantung sama laut. Kita mesti belajar dari dia, biar ilmu kita nggak cuma pinter tapi juga bijak.
Filsafat ilmu kelautan kontemporer itu kayak cerita perjalanan yang nggak ada habisnya. Kadang kita ketemu badai data, kadang harus nyari jalan lewat pulau kearifan lokal, dan kadang harus berlayar pakai perahu etika biar nggak nyasar.




