“Maskot itu diambil oleh tim penilai maskot yang memang bersinggungan dengan hal yang sangat prinsip di daerah kita, potensi maupun filosofis. Jadi kenapa ambil Hiu Paus karena memang itu adalah potensi,” ujar Fadli, saat peluncuran.
”Tapi di titik tertentu yang ada dalam anatomi, Hiu paus itu juga menggambarkan filosofi masyarakat daerah Gorontalo.”
Hiu Paus yang memiliki bentuk tubuh besar dan dua mata kecil serta 5 pasang insang. Ini menggambarkan sejarah kepemimpinan Gorontalo yang terbentuk dari Duluwo Limo LoPohalaa.
Maskot yang diberi ciri khas baju adat Gorontalo yang memakai Payunga Tilabatayila. Baju adat yang digunakan dalam berbagai kegiatan adat yang sakral, termasuk pula pada rangkaian kegiatan seremonial pemerintahan, acara nasional, maupun pada kegiatan promosi kekayaan budaya daerah.
Maskot hiu jantan ini juga di pakaikan bitu’o (Keris) yang di sematkan di pinggang. Secara filosofis dapat dimaknai bahwa laki-laki sebagai pemimpin keluarga, memiliki sikap yang dapat dijadikan teladan, penuh kasih sayang, dan juga sebagai pelindung dan pengayom keluarga.
Warna ungu pada baju adat maskot menggambarkan warna kebangsawanan tertinggi di Gorontalo. Warna ini juga melambangkan keanggunan, kesetiaan, dan kewibawaan. Selain itu, warna ungu adalah ciri khas warna daerah pemerintahan Provinsi Gorontalo.




