“Media harus tetap fokus pada kualitas konten dan membangun public discourse. Tapi di saat yang sama, perlu merangkul influencer, termasuk membantu peningkatan kapasitas mereka, terutama dalam aspek teknis dan etika,” ujarnya.
Rieke menyoroti fenomena inflasi konten yang membuat publik justru kewalahan dan kehilangan orientasi terhadap kebenaran informasi.
Sementara itu, Founder Mari Kita Bahas, Ahmad Alimuddin, berbagi pengalaman personal sebagai kreator konten dan polarisasi tajam dalam narasi publik.
Di satu sisi, muncul berbagai konten pro-pemerintah yang cenderung berlebihan dan minim kritik.
“Namun di sisi lain, ada konten kritis yang memang sering kali tajam, tetapi jarang memberikan apresiasi terhadap kinerja pemerintah,” kata Alimuddin.
Masalah utama bukanlah persaingan antara media dan influencer. Hingga kini, influencer masih menjadikan media sebagai rujukan utama. Namun sayangnya, banyak yang hanya mengandalkan judul berita tanpa memahami konteks secara utuh.
Sebagai rekomendasi, hasil riset BBC Media Action menekankan perlunya kolaborasi yang lebih kuat antara media dan influencer untuk memperluas jangkauan informasi terpercaya, disertai peningkatan kapasitas serta pemahaman etika bersama.
Media juga dinilai perlu memperkuat persona, yakni identitas komunikasi yang kuat, serta proximity, yaitu kedekatan dengan konteks dan kebutuhan audiens digital.




