Sementara itu, Country Director Indonesia and Pacific BBC Media Action, Rachael McGuinn, menekankan bahwa perubahan perilaku audiens menuntut pendekatan kolaboratif antara media dan kreator konten.
“Semakin banyak generasi muda yang mengakses informasi dari platform sosial. Karena itu, penting untuk menjembatani kesenjangan antara media arus utama dan kreator konten, agar informasi yang beredar tetap kredibel dan dapat dipercaya,” ujarnya.
Kolaborasi lintas aktor menjadi kunci dalam membangun ekosistem informasi yang sehat.
“Media, kreator konten, dan influencer bukan hanya berkompetisi, tetapi merupakan bagian dari ekosistem yang sama. Kolaborasi di antara mereka penting untuk memperkuat kualitas informasi publik,” kata Rachael.
Research Manager BBC Media Action, Rosiana Eko, menekankan bahwa media dan influencer memiliki kekuatan berbeda yang sebenarnya saling melengkapi. Media unggul dalam kredibilitas dan proses verifikasi, sementara influencer memiliki aksesibilitas dan engagement yang tinggi.
Menurut Rosiana, tantangan di masa mendatang adalah membangun ethical reciprocal relationship, sebagai hubungan timbal balik yang etis.
“Influencer tidak harus memenuhi seluruh standar jurnalistik, tetapi informasi yang mereka sampaikan harus tetap akurat, dapat dipertanggungjawabkan, dan berpihak pada kepentingan publik,” ujarnya.




