Darilaut – Terdapat sejumlah predator burung maleo di alam, seperti biawak. Namun manusia telah mempercepat berkurangnya populasi burung endemik Sulawesi ini.
Menurut Antropolog Pristiwanto, saat masih telur dan anak, maleo rawan akan kematian, dan menjadi mangsa para predator.
Biasanya predator alam yang memangsa anak maleo karena tubuhnya masih sangat lemah. Untuk beraktivitas, perlu beberapa menit beradaptasi dari proses menetas dengan dunia luar.
Selain biawak (soa-soa), yang sering ditemukan memangsa telur dan anak maleo adalah ular, kucing, anjing, babi, tikus, elang dan sapi.
Kecerdikan maleo bila bertelur, selalu menyamarkan dengan cara menggali lubang. Ada lubang dan lubang berikutnya untuk mengelabui predator seperti biawak dan ular.
“Tetapi yang paling berbahaya adalah predator manusia dan predator ini yang membuat percepatan penurunan maleo,” kata Pristiwanto yang juga peneliti di Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Manado.
Biasanya pemburu telur maleo mengamati dari jarak jauh di mana maleo meletakkan telurnya dan menandai lokasinya. Setelah maleo bertelur, pemburu mendatangi lubang tersebut dan menusuk-nusuk dengan lidi untuk mengetahui posisi telur maleo.
Setelah merasakan ada telur di dalam pasir, dengan menggunakan alat berupa kayu, pemburu mengais-ngais pasir dan menggali sampai mendapatkan telurnya.
Pristiwanto mengatakan, contoh tentang pemburu telur mempercepat penurunan populasi maleo terjadi di Desa Taima Kecamatan Bualemo.
Para predator tersebut tidak sadar bahwa akibat dari ulahnya membuat hewan endemik ini menjadi langka. Padahal, maleo adalah maskot Sulawesi Tengah.
Kasus yang sama terjadi di Buol. Populasi maleo sudah jauh berkurang. Ritual adat dalam pengobatan yang seharusnya menggunakan telur maleo sudah tidak dilakukan.
“Telur maleo diganti dengan teluar biasa (ayam),” kata Pristiwanto, Kamis (11/6).*
